Pembaharuan SDM Desa di Jalan Pertanian

OLEH FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia

Menciptakan cita-cita di tanah rantau itu sudah biasa.
Bagaimana dengan orang yang peluang merantau tertutup? Kebanyakan persoalan Indonesia ada di desa. Manusia desa mesti mendapat tempat untuk aktualisasi hidup. Pertanian merupakan bidang penting untuk menyerap tenaga kerja. Terlebih ketika data Lembaga Pertanian dan Pangan FAO menyatakan, bahwa 70 persen penghasil pangan itu dari pertanian kecil, bukan pertanian besar.

Harus dibuat skema untuk target hidup yang tepat dari keadaan lokal, kemampuan subjektif dan membuka beragam kesempatan lain. Produksi gagasan dalam rangka menjawab problem ketenakarejaan, terutama bagi remaja dan anak muda ini harus dijalankan karena kita menghadapi mayoritas ketertutupan generasi.

Laboratorium dan sekolah pertanian adalah paling mungkin untuk dilakukan mengingat manusia Indonesia terbanyak tinggal di pedalaman dengan kondisi tanah subur. Isi dari kegiatan sekolah pertanian adalah mendayagunakan akal budi petani agar memiliki cara pandang hidup terhadap lingkungan sekitarnya sebagai kesatuan aset. Alam bekerja, manusia mengawalnya seimbang antara gerak natural dengan kepentingan (natural) manusia. Jangan ada eksploitasi; karena itu harus dibangun cara pandang manusia sebagai subjek dan alam adalah subjek.

Gagasan-gagasan pembaharuan, utamanya untuk kesejahteraan hidup harus dibuat modelnya. Lalu dirumuskan aktor perubahannya, serta model pendampingan berjangka (pendek, menengah dan panjang). Keilmuan harus tangguh. Tentu saja ilmu yang menjawab masalah, bukan ilmu yang tidak jelas apa gunanya. Literasi berbasis internet sangat memungkinkan kita belajar tanpa harus menjadi sarjana pertanian. Ilmu pertanian itu bisa dibilang mudah karena bisa memasuki dari pintu manapun. Hanya ketekunan dan keseriusan serta kesabaran yang menjadi tantatangan kita.

Miliki SDM pertanian Agar usaha Agribisnis Kita Berhasil

Salahsatu ujicoba di Yayasan Odesa Indonesia Bandung mampu memperlihatkan hasil yang memuaskan. Setiap petani yang belajar serius dalam waktu 6 bulan terlihat perbaikannya. Jika satu tahun penuh, saya percaya seorang petani jebolan SD kelas 4 pun cukup untuk menjadi wirausahawan lepas kemiskinan, hidup lebih terpola, akal budinya lebih sehat.

Keterbelakangan kualitas SDM harus dijawab sungguh-sungguh. Bumi pertiwi kita penuh angerah untuk hidup sejahtera dengan beragam cara. Sayangnya kita miskin SDM kompeten dalam lapangan kerja terutama dalam sektor pertanian, padahal target sejahtera selevel UMR itu sangat banyak peluangnya. Kita harus ingat selalu bahwa akar kemiskinan atau kekurangan pekerjaan (termasuk para sarjana) karena sebab buntu-nya akal budi dalam mengakses Sumber Daya Alam. Akibatnya banyak SDM yang menjadi parasit, mengikuti kelompoknya dalam ketergantungan yang panjang. Ini yang harus diubah dengan pola pikir yang baru dan kesadaran yang penuh antusias.

Para petani harus diperkuat akal budinya melalui kegiatan pendidikan dengan ilmu yang tepat, terampil dan visioner. Ilmu botani, ilmu teknik sederhana, pengolahan pasca panen serta pemahaman pasar/konsumen harus dimiliki. Selain itu dalam budidaya pertanian juga harus kuat dalam kepedulian lingkungan.

Pekerjaan keilmuan praksis ini harus terus diproduksi sebab jika tidak dilakukan niscaya selevel sarjana pun hanya akan jadi parasit pemalas hidup penuh keluh kesah, menjadi kafir karena merasa sengsara hidup di dunia hanya karena tidak bisa bertindak membawa dirinya ke arah kesejahteraan.[]

Orang Berpendidikan Lebih Antusias dengan Kelor

Hindari Kebiasaan Sesat Bisnis Pertanian

Agroekolologi Memperbaiki Keadaan Kita

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: