EKSODUS: Ekosistem Sosial Dusun: Aksi Perbaikan Sumberdaya Manusia Dusun

Oleh ANDY YOES NUGROHO. Pendiri Odesa Indonesia. Mantan Aktivis PIJAR Indonesia.
Ekosistem Sosial Dusun: Aksi Perbaikan Sumberdaya Manusia Dusun

Tahun 2014 lalu kami merintis sebuah pergerakan. AE Priyono menggagas ide Pergerakan Pergerakan Civic Islam dengan tujuan utama Merespon Kegagalan Islam-Politik/Islamisme

Kami di Bandung menyambutnya dengan ikhtiar sederhana tetapi dilakukan secara sungguh-sungguh. Salahsatu model yang paling penting untuk pembaharuan gerakan adalah mengembangkan praksis sosial, artinya bukan semata berhenti di wilayah kajian.

Yang kami maksud dengan gerakan itu ialah membawa spirit Keislaman dan Keindonesiaan dalam satu bundel pemikiran yang kemudian diarahkan dalam bentuk praktik tindakan untuk menawarkan agenda pembebasan bagi kaum marjinal. Dasar “ideologinya” adalah republikanisme, dan salahsatu unsur yang harus diwujudukan adalah gerakan praktis menciptakan perubahan, memproduksi pengetahuan dari lapangan, dan membuka kemungkinan model-model baru agar para aktivis atau sukarelawan ini benar-benar memiliki prestasi dalam pergerakan. Dalam hal ini, Mas AE Priyono banyak berkontribusi dalam memberi arahan-arahan. Kami meraba-raba gagasan tersebut. Tidak mudah menentukan objek karena harus diselaraskan dengan kemampuan subjektif kolektif.

Saya, bersama Budhiana Kartawijaya, Faiz Manshur, Basuki Suhardiman, Hawe Setiawan, Asep Salahudin, Choiril Anwar, Pungkit Wijaya dan lain sebagainya terus mencari bagaimana agar hal tersebut mewujud. Sampai akhirnya bertemulah dengan model yang kami maksud itu pada tahun 2016. Berbasis di pinggiran Kota Bandung, wilayah kecamatan Cimenyan (Kabupaten Bandung). Di sana terhampar kemiskinan dan keterbelakangan hidup petani. Interaksi yang cepat dan sangat aktif. Kang Enton Supriyatna sangat berambisi untuk pendirian sebuah kolektif kerja. Dari situlah berdiri organisasi Odesa Indonesia.

Organisasi ini bermaksud mengeksekusi pembaharuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan menomorduakan Sumber Daya Alam (SDA). Sebab kami berkeyakinan, masalah Alam akan selesai jika dibereskan manusianya.Kata O, itu sendiri maksudnya adalah Orang, Organizer, Organizing, Organik dan Online.

Artinya Manusia perdesaan harus bangkit menjawab problem di masing-masing tempat tinggalnya, dan kaum kelas menengah berpendidikan yang memiliki semangat memperbaiki keadaan masyarakat di luar domain negara bergerak aktif membangkitkan sumber daya manusia desa. Kami berpandangan, kemiskinan dan keterbelakangan, termasuk sulitnya tenaga kerja lebih disebabkan oleh ketidakmampuan manusia mengakses sumberdaya alam dan memanfaatkan potensi alam sekitarnya.

Dua tahun perjalanan, modeling gerakan kewargaan berbasis keluarga petani marjinal (atau dalam istilah negara Pra-Sejahtera/Sangat miskin) itu digerakkan. Para petani diberikan solusi model pertanian baru. Anak-anak petani diberikan pelayanan pendidikan dengan Sekolah SAMIN (sabtu minggu) belajar pendidikan Media Aktif yang sebelumnya kami gali dari inspirasi pemikiran Bapak Utomo Dananjaya (Alm) yang kala itu, sebelum mendiang meninggal, kami mengurus bukunya “Media Pembelajaran Aktif”.

Rumah tangga petani yang kumuh tanpa sanitasi dijawab dengan solusi praksis membangunkan sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK). Kakek-Nenek yang sudah tidak produktif dicarikan solusinya dengan bantuan pangan. Jika ada keluarga miskin yang sakit, diusahakan dibantu urusannya ke rumah sakit supaya mendapatkan pelayanan yang lebih mudah karena mereka bisa makin sengsara akibat ketidakmampuan mengurus transportasi, mengurus administasi di rumah sakit dan termasuk biaya keluarganya yang sering kolaps akibat mengurus anggota keluarganya yang sakit berhari-hari.

Pengembangan Odesa di Jateng

Odesa Indonesia masuk usia tiga tahun pada pertengahan 2019 ini. Tahun lalu kami sudah menggagas pentingnya perluasan model gerakan di Jawa Tengah. Karena kebutuhan saya tinggal di Temanggung, tugas Yayasan merekomendasikan saya dan teman-teman di Temanggung untuk memulai gerakan. Tetap menjadi bagian Odesa Indonesia, tetapi organisasinya berbentuk sub. Namanya Eksodus, kependekan dari Ekosistem Sosial Dusun. Tagline kami dalam organisasi ini adalah: “Aksi Perbaikan Sumberdaya Manusia Dusun: Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan”.

Lagi-lagi, model ini sebagai penajaman dari spirit Odesa Indonesia yang mengambil bagian perdesaan. Karena kami sadar lokus desa itu luas, maka fokus pada perdusunan, terdiri dari 1 kampung (di Jawa Tengah), atau 2-3 kampung (model Jawa Barat). Lokus gerakan berbasis dusun ini akan membuat pikiran kami lebih spesifik dan fokus. Mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan dengan menggali akar persoalan masyarakat. Tujuannya jelas, setiap subjek/orang, harus memiliki kemampuan dalam mengelola alam, merawat secara tepat sasaran, tidak merusak lingkungan, dan menimbulkan kebaikan-kebaikan sosial kemasyarakatan.

Itulah mengapa baik Odesa Indonesia maupun Eksodus akan selalu bergerak dalam dunia pertanian,dunia pangan, dunia botani. Konten gerakannya adalah pembahuan pertanian dengan jalan ilmiah/sainstifik tetapi sekaligus praktis. Ada pembibitan, ada tani pekarangan, ada pertanian agroforestry (wanatani), dan ada gerakan pengolahan pasca panen.

Eksodus di Temanggung kini sedang memantabkan gerakan pembibitan, mendirikan Grup Pertanian Sindoro Sumbing (SINSU) yang berkonsentrasi pada tanaman obat dan tanaman pangan berkualitas. Lain daripada itu, bersambut dengan kegiatan lain sebagaimana Odesa Indonesia menetapkan garis-garis besar haluan pergerakan Odesa Indonesia Tentang Odesa Indonesia

Eksodus ini bukan gerakan ekseklusif, melainkan inklusif yang membuka peluang kelas menengah dari kalangan Dosen, Mahasiswa, Peneliti, Aktivis LSM dan lain-lain untuk bersama-sama mengabdi langsung ke masyarakat marjinal di Kawasan Temanggung, dan mungkin akan menemukan sasaran-sasaran baru di luar Temanggung. []

Menengenal Organisasi Eksodus Temanggung

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: