Ketua Pembina Odesa: Mengurus Kaum Papa itu Besar Maknanya

Bergiat rutin melayani kaum papa bukan hal yang selalu menyenangkan. Pasalnya banyak persoalan di luar dugaan yang seringkali jauh dari apa yang diharapkan. Namun karena merupakan tanggungjawab naluriah kemanusiaan, kegiatan tersebut justru berbalik menjadi hal yang bermakna. Itulah mengapa belasan orang kota yang terhimpun di Yayasan Odesa Indonesia terus aktif melakukan gerakan yang menurut Ketua Pembinanya, Budhiana Kartawijaya, sebagai gerakan filantropi.

“Orang miskin dan mereka yang terbelakang ada dimana-mana. Masalahnya bukan berapa jumlah dan di mana berada, melainkan sejauh mana kita mendudukkan mereka dalam konteks kehidupan sosial, termasuk politik. Bagi kami di Odesa Indonesia, orang miskin yang masuk kategori struktural politik ini harus mendapat pelayanan khusus karena tidak mungkin negara bisa mengatasinya dalam waktu cepat. Kegiatannya tidak cukup sedekah atau berbagi, melainkan harus dibingkai dalam model filantropi,” kata Budhiana kepada Odesa.id, Selasa 30 Januari 2019.

Selama tiga tahun, Yayasan Odesa Indonesia mengambil peran kerja aktif melayani kaum papa yang tinggal di perdesaan terbelakang di Kawasan Bandung Utara (KBU), terutama di Kecamatan Cimenyan. Ada kegiatan pertanian model baru yang berorientasi agroforestry/wanatani, ada pelayanan pendidikan untuk anak-anak petani dan pemuda tani. Ada kegiatan penyuluhan kesehatan, kuliner dan juga penyaluran amal dari para dermawan.

“Ini penting dilakukan karena kelompok miskin korban struktural (bukan akibat malas atau akibat sakit permanen-Red) itu setahap demi setahap bisa mengalami perbaikan. Sebab, kelemahan mereka biasanya pada ilmu pengetahuan untuk mengakses sumber daya alam di sekitarnya. Kita lakukan itu tentu bukan dengan sekadar pelatihan, melainkan dengan pendampingan, melayani mereka secara rutin setiap pekan sepanjang tahun,” jelas wartawan Senior Harian Pikiran Rakyat itu.

Menurut Budhiana, dari kegiatan pelayanan terhadap kaum papa itu justru banyak dari pengurus Odesa Indonesia yang lebih dahulu mendapatkan keuntungan berupa hikmah kehidupan. Sebab praktik kegiatan kemanusiaan tersebut seringkali menyadarkan tentang pentingnya hal-hal mendasar seperti kebersihan, pangan, jalinan sosial, dan urusan kecil seperti uang sekolah anak.

“Melayani kaum lemah sekalipun berat, tapi hikmahnya juga besar. Banyak Pengurus dan relawan Odesa Indonesia yang tersadarkan kehidupan orang lemah. Itu memperkaya kita, dan secara konkret membangun empathy dalam diri kita. Makanya bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pencerahan dari kehidupan, bisa menyerap nilai-nilai kemanusiaan dari kegiatan seperti yang kami lakukan,” terangnya.

Hal-hal yang membuat Budhiana dan belasan pengurus Odesa Indonesia mendapatkan keuntungan tersebut di antaranya adalah jalinan pertemanan yang luas lintas profesi, memiliki pertemanan dengan keluarga petani dan anak-anak petani, menemukan sumberdaya unik di perdesaan, mengenal ratusan pengetahuan tentang tanaman obat dan tanaman pangan. Semakin mengenal tentang kesehatan hidup. Semakin mendalam memahami ilmu sosial terutama etnografi. Dan banyak sekali pengetahuan terkait dengan ekologi, ekosistem dan lain sebagainya.

“Dengan kata lain, kehidupan di perdesaan dengan alam yang indah sekalipun di sana-sini terdapat ironi karena masalah kemiskinan, sebenarnya juga merupakan sumber pengetahuan yang melimpah. Itulah mengapa kami menjadikan Odesa Indonesia ini sebagai kampus kehidupan,” katanya. Riz/har

Punya Barang Layak Pakai yang Ingin Anda Bagikan untuk Kaum Papa?

Saluran donasi pertanian penghijauan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: