Fakta di balik Kemiskinan Petani dan Literasi sebagai Solusi


Catatan Diskusi Akhir Tahun Odesa Indonesia Bandung
Teknologi Majapahit dan Sarana MCK
Ada ratusan keluarga yang masih hidup tanpa air bersih yang memadai. Ada ribuan keluarga yang belum memiliki sarana Mandi, Cuci dan Kakus. Terdapat pula ribuan kekuarga petani yang rumahnya reyot tak layak huni. Ada pula pemandangan tanah perbukitan luas menghampar tanpa pepohonan dengan warga coklat pucat menandakan tanah yang sakit.

Persoalan itu terjadi di jarak 5 hingga 15 Kilometer dari Perkotaan Bandung. Di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, tempatnya Yayasan odesa Indonesia menjalankan roda keorganisasian, persoalan-persoalan itu diangkat dalam sebuah dialog akhir tahun 2018.

Bertempat di Villa Alam Santosa, Pasir Impun Desa Cikadut Kabupaten Bandung, para aktivis berkumpul untuk membicarakan persoalan-persoalan sosial dengan tema “Temu Sosial Akhir Tahun 2018” yang menyoroti dua masalah utama kehidupan berbangsa, yaitu krisis kemanusiaan yang menimpa keluarga petani dan krisis lingkungan hidup yang hebat di pinggir Kota Bandung.

Mengurus pertanian adalah mengurus petani. Basuki Suhardiman, Kepada Bidang Ekonomi Pertanian Odesa Indonesia dan Peneliti di Comlabs Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menjelaskan, niat awalnya bergiat di Cimenyan adalah bertanam kopi. Tetapi perjalannya tidak mulus karena harus menghadapi persoalan krusial kehidupan terbelakang para petani kecil. Ia sebut petani kecil, atau lebih tepatnya pekerja tani yang telah mayoritas tidak memiliki tanah itu sebagai peasant (dibaca pisan-red). Kelompok ini menurut Basuki mengalami kesulitan hidup sejahtera karena peluang-peluang pada pertanian terkunci oleh rendahnya ilmu pengetahuan pertanian dan lemahnya teknologi.

Menurut Basuki, keterbelakangan pemikiran pertanian para petani itu mudah ditemukan di Kawasan Bandung Utara. Mayoritas petani masih menanam sayur dengan pola lama dan menghasilkan krisis lingkungan erosi karena menggunduli hutan. Sebagian lain menanam kopi di Pinggir Hutan Arcamanik, tetapi di sana kurang produktif karena tidak ada pendampingan ilmu pengetahuan, bahkan kini berkontribusi merusak hutan. Sebagian petani masih menanam padi di lahan basah.

Semua petani itu mayoritas berpengetahuan dari sumber turunan atau kalaupun baru seperti sayuran dilakukan hanya dengan cara ikut-ikutan. Tidak ada ilmu pengetahuan yang sifatnya inovatif untuk menghasilkan produksi pertanian yang lebih baik. Semua hasil panen dijual mentah tanpa pengolahan, dan keberhasilan meraih keuntungan ekonomi mayoritas ditentukan oleh faktor eksternal di luar kemampuan petani, yaitu cuaca dan market. Tragisnya, cuaca dan market ini kebanyakan tidak memihak pada petani. Sedangkan ketertinggalan dalam teknologi menurut Basuki, diperlihatkan oleh alat pertanian yang masih memakai cangkul dan arit.

“Petani kita melakukan kegiatan ekonomi serba tertinggal. Teknologi dan ilmu pengetahuannya tidak berubah dari zaman Majapahit,” kata Basuki.

Semua hal itu bisa diubah. Caranya dengan memasukkan sistem ilmu pengetahuan baru. Misalnya bertani kopi dengan bibit pilihan yang baik akan mampu menghasilkan panen lebih cepat.

“Kalau selama ini bertanam kopi harus menunggu 2,5 atau bahkan 3 tahun, bibit kopi Odesa Indonesia bisa menghasilkan panen pertama pada usia 20 bulan,” kata Basuki.

Dengan sistem pengetahuan baru dan menghasilkan pembaharuan seperti pembibitan kopi tersebut sekarang para petani berbondong-bondong meminta jatah kopi kepada Yayasan Odesa Indonesia. Padahal pada dua tahun sebelumnya Yayasan Odesa Indonesia seringkali kesulitan mengajak petani kopi terutama pada lahan-lahan erosi karena mereka belum mengetahui manfaat budidaya kopi. Kalaupun petani mengetahui hasil kopi rata-rata mereka enggan cepat bergerak karena masih berpikir bertanam kopi harus menunggu waktu lama hingga 3 tahun.

Dengan kemauan petani bertanam kopi, Yayasan odesa Indonesia melihat celah lain di luar urusan peningkatan ekonomi keluarga petani, yaitu perbaikan lingkungan. Kepada para petani yang mau menanam kopi, Odesa Indonesia mewajibkan para petani menanam pohon tinggi untuk kepentingan menahan erosi yang sering mengirim banjir lumpur ke Kota Bandung. Sejalan dengan itu, jenis tanaman herbal seperti Kelor, Daun Afrika, dan juga tanaman pangan jenis lain seperti Sorgum dan Hanjeli juga bergerak massif.

“Tahun 2019 ini kita akan mulai banyak memanen hasil pertanian baru. Ada kopi dengan hasil produk yang kita olah. Minuman sehat bergizi tinggi Kelor juga sudah berhasil kita wujudkan. Dan pebruari nanti kita memanen Sorgum dan Hanjeli, dua pangan bergizi yang zaman lampau sudah ada di Cimenyan tetapi hilang dari matarantai pertanian karena kebijakan politik negara yang tidak memperhatikan keanekaragaman hayati,” papar Basuki.

Di luar memanen hasil pertanian, Yayasan odesa Indonesia juga menyampaikan fakta menarik karena kemampuannya memproduksi agen perubahan sosial baru. Terdapat 16 petani muda yang memiliki kecakapan baru dalam pertanian meliputi pembibitan, budidaya, penghijauan dan yang tak kalah menarik adalah kemampuan petani menyehatkan tanah dengan konsep baru agroforesty atau wanatani.

Menyehatkan tanah yang sakit ini adalah penting karena menurut data Odesa Indonesia, hampir semua lahan pertanian sudah mengalami pesakitan akibat eksploitasi pertanian lebih dari 70 tahun. Ladang kehilangan hutan, dan tanah pertanian tidak mendapatkan pupuk organik. Humus telah musnah diganti bahan-bahan pertanian kimia yang menyengsarakan tanah sehingga petani ikut-ikutan sengsara.

“Karena alasan itu, kita sekarang mengambil peran gerakan agroforestry atau wanatani yang sesuai dengan potensi lokal. Targetnya ada tiga, menyehatkan tanah, memakmurkan pendapatan ekonomi petani, dan mengatasi erosi,” kata Basuki.

Jalan Filantropi

Mengatasi problem hidup kemanusiaan bukan semata ekonomi. Karena dalam keluarga petani terdapat sumberdaya manusia yang beragam, terlebih menyangkut masalah anak-anak petani, Yayasan odesa Indonesia mengambil peran sosial lain. Budhiana Kartawijaya, Ketua Pembina Odesa Indonesia yang secara khusus menahkodai kampanye gerakan sosial kemanusiaan memberikan pandangan bahwa saatnya kelompok kelas menengah di Indonesia mengambil peran sipil secaralebih maksimal.

“Indonesia, seperti tercermin dari kasus Kemiskinan Budaya di Kawasan Cimenyan Bandung membutuhkan gerakan baru dari charity menuju filantropi,” kata Budhiana.

Menurut Wartawan Senior yang selama ini gigih mengampanyekan gagasan Jurnalisme Akar Rumput ini, gerakan sipil harus diperkuat di Indonesia karena demokrasi struktural di jajaran pemerintahan tidak memiliki sensivitas terhadap problem lapangan, terutama menyangkut masalah kebutuhan hak-hak dasar hidup warga seperti air, pangan, sekolah, dan kesehatan.

Kelompok sipil kelas menengah seperti pengusaha, wartawan, dosen, hingga mahasiswa harus mengambil peran sosial ini karena banyak kemajuan lebih ditentukan oleh gerakan sipil. Adapun model gerakan sipil yang berkualitas atau maju menurut Budhiana juga tidak bisa sekadar dengan amal model derma semata. Charity menurutnya lebih bersifat jangka pendek, emosional, responnya reaktif, dan hanya bersifat penyelamatan sesaat. Sedangkan filantropi bersifat jangka panjang, lebih strategis.

“Sebenarnya tidak ada dikotomi antara charity dan filantropi. Tapi charity yang maju adalah filantropi. Kita majukan dengan kampanye gerakan filantropi, wujud praksisnya adalah pendampingan,” terang Budhiana.

Budhiana memberikan bukti nyata, dengan langkah-langkah filantropi pendampingan tersebut banyak kisah keberhasilan yang nyata. Seperti ketika teman-teman di kota membantu menyalurkan amal sosialnya untuk pembangunan sasara MCK di Cimenyan. Oleh Yayasan Odesa Indonesia, bantuan keuangan itu dikelola dengan sistem pendampingan. Wujudnya tidak sekadar berdiri bangunan, melainkan juga kesadaran hidup bersih dan gotong-royong antar warga.

“Ada ratusan keluarga yang selama lebih 20 tahun kesulitan air. Sekarang hidupnya lebih efektif. Selain sehat, mereka juga bisa menggelar tani pekarangan. Waktu yang tadinya habis untuk mengambil air dari jarak 1 km misalnya, sekarang digunakan kegiatan lain sehingga lebih produktif ekonominya, bahkan bisa menjalankan ibadah lebih baik karena sholat dan “mandi besar” misalnya, juga berurusan dengan air,” papar Budhiana.


Pendampingan Literasi

Di atas segala problem kesulitan ekonomi dan juga rendahnya kesejahteraan, keluarga petani kecil ini juga menghadapi masalah sumberdaya manusia. Anak-anak petani di Cimenyan kebanyakan tertinggal dari sisi pendidikan. Solusi pendampingan filantropis Odesa kemudian diwujudkan dengan menggelar sekolah sabtu dan minggu. Untuk petani belajar pada hari sabtu.

Sedangkan untuk anak-anak petani, belajar pada hari minggu pagi hingga siang. Kepala Sekolah SAMIN (Sabtu-MInggu), Ahmad Baiquni menjelaskan, konsep pembelajaran yang menyenangkan digelar untuk meningkatkan kapasitas dasar anak-anak petani. Ada banyak tantangan yang dihadapi anak-anak petani mulai dari kurang gizi, kurang wawasan sehingga berpikir pendek, dan juga kurangnya kesempatan mengembangkan potensi diri.

“Sekolah harus menyenangkan sekaligus praktis memberikan pemikiran dan tindakan baru.
Menghadapi anak-anak petani tidak semudah menghadapi anak-anak dari keluarga berpendidikan. Tetapi di situlah peran kita sangat dibutuhkan. Saya sangat berharap dari teman-teman di kota untuk ikut serta bergabung memberikan pelayanan pendidkan ini,” kata Baiquni.

Menurut CEO Redaksi Penerbit Mizan itu, banyak sekali kampung-kampung di Kawasan Bandung Utara, terutama di Cimenyan, Cilengkrang dan Cileunyi yang menbutuhkan tenaga pendamping literasi untuk pembangunan karakter. Mengajar matematika, bahasa Inggris, etika, wawasan dunia dan lain sebagainya.[Enton Supriyatna. Sumber Pikiran Rakyat, Kamis Pon, 3 Januari 2019).

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: