Kekuatan Budaya ditentukan Kekuatan Budidaya

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa-Indonesia

Jika kita melihat kebudayaan nasional kita lemah, maka untuk sebuah evaluasi mendasar perlulah kiranya kita menyempatkan menengok realita budidaya atau dunia pertanian.Sebab, budaya dan budidaya, atau culture dan agriculture memang berkait erat sejak awal perjalanan sejarah masyarakat manusia. Masa kini atau masa lalu mempunyai bukti korelatif akan hal itu.

Bukti masa kini bisa kita lihat dari nama-nama negara yang tangguh dalam kebudayaan; Belanda,Israel, Amerika Serikat, Cina, Inggris, Jepang, Korea Selatan, termasuk Australia. Dari semua negara ini –karena di baliknya memiliki kekuatan budidaya tanaman pangan (pertanian)—mereka bisa mendapatkan berkah kemajuan dalam kebudayaan, dibuktikan oleh prestasi-prestasi pencapaian teknologi, literasi, olahraga, dan lain sebagainya.

Kemampuan masyarakat agraris mendomestifikasikan tanaman pangan dan ternak menjadi cikal bakal laku sosial kemasyarakatan. Bertani adalah kegiatan menghasilkan pangan dengan kekuatan akalbudi. Monyet tak bisa bertani (budidaya) dan akibatnya tidak memiki kebudayaan. Sumber pangan monyet bergantung dari sumber ekstratif. Itulah mengapa evolusinya berbeda dengan manusia karena ketersediaan pangan sangat bergantung pada lingkungan dan musim.

Semakin terdesak lingkungannya, semakin lambat mereka berevolusi. Manusia, karena akal budinya berfungsi untuk menciptakan model baru menghasilkan pangan dengan budidaya; dan dari sinilah kemudian menjadi cikal bakal kebudayaan dan kemudian dari kebudayaan inilah tercipta kemungkinan mencapai prestasi gemilang bernama peradaban.

Kita Lemah Ilmu
Negara kita lemah pangan dan hobi mengandalkan hasil panen milik orang (impor). Saya tidak mengatakan bahwa mental kita dalam hal pangan masih sebatas naluri memanen. Tapi ada kenyataan umum bahwa kita gemar memanen tapi malas tanam. Lemahnya tradisi berbudidaya ini mengakibatkan kebudayaan kita susah berkembang karena urusan ternak, literasi (pendidikan) dan teknologi lambat kita lakukan.

Kenyataan ini sejalan dengan sunnatullah; manakala urusan paling dasar, yaitu pangan masih dikejar, terang urusan lain seperti urusan pendidikan, lingkungan, kesehatan, teknologi dan lain sebagainya otomatis akan keteter. Ironisnya lagi setiap keluarga petani, apalagi buruh tani, hidupnya sangat tidak adaptif dengan kebutuhan hidup manusia berkebudayaan. Banyak dari keluarga Indonesia penyandang status pra-sejahtera (sangat miskin) atau sejahtera I (miskin) itu wujud konkretnya adalah petani dan buruh tani yang nota-bene adalah produsen pangan.

Mestinya dengan model budidaya pertanian itu petani justru lebih makmur. Nyatanya selalu kekurangan terus. Apa penyebabnya? Tidak ada tradisi baru berbasis ilmu yang menjawab masalah petani. Petani tidak disejahterakan ilmu pengetahuannya, padahal pengetahuan adalah sumber mendasar kekuatan.

Kita memang bisa makan tanpa bertanam dan menolak perilaku kita selevel monyet karena urusan hidup memang bukan semata mendapatkan sumber pangan. Kita bisa menjadi pekerja modern dan hidup tampak lebih beradab tanpa harus bergiat urusan budidaya pangan. Namun itu juga menegaskan masih kuatnya mental hidup model pemburu pengumpul dalam hidup kita. Masyarakat pemburu-pengumpul, lagi-lagi, karena waktu itu minim ilmu pengetahuan mereka memiliki corak nomad; hidup dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan hasil ekstratif (berkah sumber alam tanpa produksi).

Dan kenyataan sejarah membuktikan, masyarakat corak pemburu pengumpul ini tidak produktif, lambat menghasilkan peradaban. Begitu masyarakat komune dijalankan, kegiatan produksi bergerak pilar-pilar dasar urusan sosial kemudian terbentuk, sampai kemudian membutuhkan “pengaturan”. Negara tradisional dengan basis kesukuan mulai bergerak, lalu bertransformasi menjadi kerajaan, dan yang lebih maju lagi membentuk negara-bangsa.

Pertanian kita berjalan tanpa kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM) petani. Soal paling mendasar saja, ilmu pengetahuan pertanian yang modern, efektif, selaras dengan pemenuhan market modern tidak berjalan. Mayoritas petani hidup dalam keluh kesah karena menjalankan ekonomi yang tidak menjamin keberlangsungan hidup. Bahkan urusan pertanian sampai zaman begini maju masih sebatas ribut soal subsidi pupuk, dan pupuk yang diharapkan petani itu pun pupuk kimia yang pada kenyataannya lebih banyak merusak lingkungan. Artinya para petani kita tidak pernah mendapatkan sumber ilmu pengetahuan yang baru sementara sumber alam kita sangat kaya untuk menghasilkan pupuk ramah lingkungan.

Sekali lagi, pilar peradaban tidak akan lepas dari pangan, ternak (satwa), literasi dan teknologi. Teman saya, Basuki Suhardiman dari Comlabs Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bergiat aktif mengurus kehidupan petani kecil di Cimenyan Kab. Bandung mengatakan, kita lemah segalanya dari empat hal itu. Tradisi kita dalam menghasilkan pangan tidak didukung pengelolaan satwa/ternak yang lemah juga urusan daging dan pupuk.

Pada urusan literasi, kata Basuki, Bangsa Indonesia tertinggal lebih 150 tahun dari bangsa-bangsa modern yang telah teruji menghasilkan peradaban. Wajar kalau kemudian urusan teknologi juga tidak berkembang. Bahkan urusan bibit saja semua harus ribut subsidi. Subsidi artinya menegaskan kenyataan bahwa kita lemah, kita tidak mampu, dan selalu bergantung pada urusan lain.

Kita mahir bicara kedaulatan pangan, tapi naif karena belum mampu membentuk petani mandiri dari kebergantungan pupuk dan tidak mampu mendorong kekuatan produktif dalam urusan bibit sekalipun. Atas fakta objektif keadaan itu kita juga mesti kembali memikirkan tentang pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pokok mendasar masalah rakyat.

Keluarga petani sebagai basis kekuatan produksi harus disejahterakan, mula-mula disejahteraan ilmu pengetahuan dalam hal budidaya tanaman pangan. Jangan pemberdayaan sekadar pelatihan instan yang tak menjawab persoalan secara konkret. Kita mesti mengobati sumber daya alam kita yang rusak melalui dunia pertanian. Karena itu peran petani sangat penting. Mereka harus menjadi aktor utama dalam meraih kecukupan ekonomi dan kecukupan rumah tangganya dan dari situlah bekal kita untuk mengubah sumberdaya alam dengan model ramah lingkungan bisa digerakkan. Karena itu petani harus diberikan “modal ilmu pengetahuan” yang cukup. Ilmu pengetahuan harus sampai ke desa-desa, bukan menyebar di kalangan kelas menengah, hanya berada di kampus atau ruang-ruang dinas, melainkan harus masuk ke rumah tangga petani miskin, seperti di Cina, Kuba, dan Jepang.

Kekuatan Ilmu
Ilmu pengetahuan adalah power, kekuatan paling penting dalam urusan hidup. Gerakan produksi pertanian Cina sebagaimana dicatat Milton Friedman (2008) menarik diperhatikan. Tahun 2006 Cina menggulirkan gagasan hidup yang efisien dan berorientasi pada urusan “hijau”, pemerintah mengambil tindakan dengan kebijakan top-down. Hasilnya dalam waktu dua tahun memang bagus. Tapi Pemerintah Cina kemudian sadar bahwa gerakan negara tanpa melibatkan kemampuan sumberdaya dari petani ternyata membuka peluang menuju kesia-siaan karena petani yang rendah pendapatan itu tidak memungkinkan memiliki kesadaran merawat ekologi.

Beruntung Cina peka atas gejala ini, dan akhirnya pemerintah mendorong petani belajar bersama untuk memahami pentingnya bertani dengan peduli pada ekosistem. Secara simbolis pemerintah Cina juga mengapresiasi petani-petani kecil yang peduli lingkungan, diberi penghargaan dan dibuka jalannya untuk lebih maksimal berkegiatan.

Bagaimana dengan kita? Adakah gerakan mengusung ilmu pengetahuan berbudidaya tanaman pangan yang bijak untuk penyelamatan pangan, hemat energi, memperkuat ekosistem agar ekologi kita terjaga? []

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: