Ke Arah Destinasi Wisata Tebing Kosmo

Oleh: HERRY DIM. Kepala Divisi Revitalisasi Sumber Daya Alam Odesa Indonesia

PADA salasatu pertemuan Odesa Indonesia, Selasa (25/9), Faiz Manshur mencatat di papan tulis berupa aksara SDM yang diberi lingkaran, kemudian dari lingkaran tersebut diberi dua tanda panah; satu ke arah tulisan “alam,” dan satu lagi ke tulisan “kehidupan.”

Itu untuk menandaskan bahwa pokok masalah yang dihadapi di kawasan Cimenyan (sesungguhnya di manapun di muka bumi ini) adalah pada ketersediaan dan kesiapan atau tidak/belum siapnya SDM (Sumber Daya Manusia).

“Alam dan kehidupan itu bisa menjadi apapun dan semua bergantung pada manusianya,” tandas Faiz Manshur.

Betul lah kiranya, bahwa alam dan kehidupan ini bisa menjadi baik atau rusak itu tergantung faktor manusianya.

Pun di dalam menghadapi cita-cita dan realisasi pengembangan kawasan “Tebing Kosmo” di Cisanggarung Lebak, Pasir Impun, Cimenyan, Kab. Bandung untuk menjadi destinasi wisata ekologis yang layak kunjung; 99% amat bergantung pada ketersediaan dan kesiapan SDM setempat.

Faktor SDM menjadi kian penting dan mendasar mengingat cita-cita yang hendak dicapai adalah moda destinasi wisata yang sepenuhnya dikelola oleh masyarakat setempat, atau moda partisipatoris dan emansipatoris.

Lain halnya jika maksud tersebut berlandas kepada kekuatan modal, segalanya bisa jauh lebih mudah apalagi jika besaran kapitalnya jauh lebih kuat. Dalam tatanan ini, SDM secara teknis bisa “dibeli” (dalam tanda petik), yang asalnya tidak ada bisa dengan segera di”ada”kan bahkan standar kualitasnya bisa ditentukan oleh daya modal. Atas dasar logika modal yang artinya harus segera menghitung BEP (Break Event Point’) serta percepatan meraup keuntungan, maka SDM yang memenuhi standar kualitas bisa didatangkan dari manapun. Ringkasnya, bisa saja masyarakat lokal itu ditinggalkan yang penting kebutuhan SDM segera terpenuhi, BEP segera terlewati, dan keuntungan yang sebesar-besarnya segera datang.

Logika modal atau kapitalistik, tentu bukanlah pilihan Odesa Indonesia (OI). Sejak mula tumbuh tiga tahun yang lalu, OI justru ingin memerangi keterbelakangan dan kemiskinan masyarakat sekitar Cimenyan. Itu artinya bercita-cita melakukan pemberdayaan masyarakat setempat.
Di sini pula, sesungguhnya, kerumitan ke arah cita-cita destinasi “Tebing Kosmo” bermula.
Hampir seluruh SDM Cimenyan yang ditangani OI itu tergolong pra-sejahtera (lihat seluruh catatan jurnalistik pada https://odesa.id).

Padahal, seluruh pengelolaan dan pekerjaan pariwisata itu sepenuhnya merupakan pekerjaan “ngabageakeun” atau pekerjaan untuk menyenangkan orang lain. Sementara SDM yang dimaksud, itu jangankan “ngabageakeun” orang lain bahkan untuk kebutuhan dasar dirinya sendiri pun masih amat sangat jauh dari terpenuhi. Pun masyarakat yang sedikit agak di luar pra-sejahtera, relatif tipis sekali kepeduliannya, umumnya masih tergolong pada masyarakat yang masih sibuk mengurus diri sendiri ketimbang memperhatikan orang lain.

Lebih parahnya lagi adalah para pemilik lahan seputaran “Tebing Kosmo,” umumnya orang kota bahkan ada yang tinggal di kota lain atau di luar Bandung. Mereka, tentu saja, sudah tergolong kaya maka bisa menguasai tanah di kawasan itu. Tapi, tentu pula, umumnya tak mengenal masalah-masalah di seputaran tanah miliknya.

Itu sekadar gambaran ringkas yang artinya keadaan di bawah titik nadir. Dalam hitung-hitungan kapitalistik bisa disebut keadaan yang tidak mungkin bergerak ke produksi, jika dipaksakan pun niscaya merugi.

OI bukan tak memahami masalah tersebut, bahkan telah lama tiba pada pertanyaan mendasar: dari mana harus memulai?

Pertanyaan lanjutannya: apakah harus menyejahterakan dahulu masyarakat dan baru berjalan? Bagaimana dengan proses pemahaman, apresiasi, kesadaran manajerial pariwisata yang sepenuhnya di wilayah literasi? Apakah mesti dimulai dengan pendidikan, pelatihan-pelatihan, atau ceramah-ceramah?

Berkenaan dengan ini, kiranya perlu disampaikan catatan khusus pada keberadaan Ujang Sahla, yaitu pemilik atau pewaris dari kawasan yang kemudian diberi nama “Tebing Kosmo Curug Batu Templek.” Ujang Sahla dan keluarganya membuka diri dan berkenan lahan miliknya untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata.

Pertanyaan-pertanyaan di atas, pun telah muncul sejak pertemuan pertama penulis dengan Ujang Sahla dan Deden Tresnawan manakala mempersiapkan rencana pelaksanaan BIAF (Bandung Internasional Arts Festival) #2 pada tahun 2016 di lokasi Tebing Kosmo Curug Batu Templek.

Terdorong semangat muda Deden Tresnawan, penulis hanya berkata: “tak ada jalan lain, semua dimulai saja apa adanya.”

Dari sini pula kekuatan awal bermula, dan kalimat yang sama diulang lagi dalam menghadapi persiapan “Saba Desa 2018.”[]



Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: