Basuki Suhardiman: Tani Pekarangan Efektif Menjawab Problem Ekonomi Petani

Apakah usaha tani itu bisa mencukupi kebutuhan kita atau tidak?

Pertanyaan ini diajukan oleh Basuki Suhardiman, penanggungjawab bidang Ekonomi-Tani Odesa-Indonesia kepada para petani di acara diskusi “Tani Pekarangan dan Pembibitan” di Kantor Odesa Indonesia, Pasir Impun Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kab.Bandung, Sabtu 22 September 2018.

Basuki yang mengisi malam itu mengisi acara rutin kegiatan diskusi pertanian mendapat jawaban yang beragam dari peserta. Sebagian besar menyatakan tidak, karena banyak faktor. Alasan yang mengemuka pada diskusi malam itu antara lain, karena lahan yang dimiliki sangat sempit, bahkan hanya tani penggarap yang dibebani modal besar dan kontrak tanah. Kedua, kemampuan petani menghasilkan panen hanya pada musim hujan, di luar musim hujan para petani tidak mampu mengatasi masalah kekeringan. Ketiga, kebanyakan kebutuhan hidup petani kecil itu dihasilkan dari kerja kuli bangunan dan sebagian dari hasil buruh tani.

“Bertani itu ibarat main lotre kalau di sini. Petani tidak bisa meramal dengan hitungan modal lalu bisa memastikan hasil sekian labanya,” kata Jajang memberikan ilustrasi dunia pertanian petani sayur.

Atas dasar pemetaan sederhana ini, Basuki yang sudah lebih 3 tahun mendampingi ekonomi petani di Kawasan Bandung Utara itu bertanya lagi, “ apakah ada contoh pertanian yang berhasil di sini? Bagaimana hitungannya?”

Ketua Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan (TAOCI) Rusmana, menjawab, ada. Rusmana mengambil contoh dari salahsatu petani temannya yang bertani di dekat Hutan Arcamanik Kab.Bandung. Lahan seluas 5 hektar, selama 5 bulan berjalan membutuhkan Rp 60juta. Sebagian dari bagian lahan yang ditanami sayur itu merugi sebagian menghasilkan laba. Pada hasil akhirnya, petani tersebut menghasilkan Rp 100 juta dalam waktu tersebut.

Menghitung Rasio Pertanian

Atas penuturan itu Basuki lantas mengajak peserta menghitung rasio ekonomi. Setelah dihitung, keuntungan Rp 40 juta. Laba 40 juta tersebut kemudian dibagi menjadi 5 ( masing-masing satu hektar) menghasilkan keuntungan perbulan Rp 8 juta. Lalu dibagi 6 bulan, maka ketemunya petani yang bermodalkan 12 juta untuk satu hektar tersebut hanya menghasilkan uang Rp 1,3juta setiap bulan. Itu kalau untung.

Dari perhitungan sederhana ini, presentasi Basuki cukup membuat petani –yang jarang punya hitungan ekonomi– itu tertawa bersama karena ternyata untuk mendapatkan uang Rp 1,3 juta saja harus punya lahan seluas 1 hektar dengan modal minimal Rp 12juta. HItungan tersebut juga bukan berarti setiap petani yang punya lahan 1 hektar pasti berhasil karena pengalaman sang petani tersebut mengelola lahan 5 hektar. Artinya ada subsidi dari bagian tanah yang laba untuk menutup kerugian bagian lahan yang gagal panen atau akibat anjlog harga hasil panen di pasar.

“Nah, karena ini sekarang kita sedang sesi hitungan ekonomi, coba kita gali pengalaman tani pekarangan,” tanya Basuki kepada Ujang Rusmana yang selama ini mendampingi kegiatan tani pekarangan untuk buruh tani miskin.

Hasil presentasi Rusmana adalah, Mang Odin dengan lahan pekarangannya berbisnis bibit tanaman herbal, juga mengelola kolam dan ternak. Modal tanah luasnya hanya 3 meter persegi. Penghasilan dari bibit tanaman dan pupuk saja bisa mencapai Rp 600.000. Menurut Rusmana, tani pekarangan Mang Odin itu sangat mudah untuk menghasilkan rutin Rp 600 ribu, bahkan bisa juga jika distel lebih maju bisa stabil menghasilkan uang Rp 1juta atau bahkan Rp 2 juta setiap bulan.

Dari penjelasan itu, Basuki lantas membandingkan antara modal dengan penghasilan. Intinya untuk pertanian pekarangan dengan lahan beberapa meter saja bisa menghasilkan rutin satu bulan setengah dari pendapatan UMR. Lahan yang diurus di Grup Petanian Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) juga sudah membuktikan itu. Luas lahan 1.000 meter, dikelola secara intensif dengan dua tenaga kerja rutin harian. Mampu menghidupi dua tenaga kerja sebagai karyawan berpenghasilan di atas rata-rata petani.

“Kita ini harus bisa menghitung rasio modal lahan, modal uang, modal tenaga kerja dan mengurangi pemborosan. Misalnya, pemilik lahan yang jaraknya jauh akan sangat boros dalam waktu kerja,” jelas Basuki.

Cakrawala Pertanian

Penjelasan rasionalitas berekonomi ini merupakan awal dari pembuka pemikiran petani baru terutama para petani kecil (peasant) di Kampung Cikored yang mayoritas merupakan pemilik lahan kecil tetapi belum memiliki terobosan ekonomi kreatif dari rumah tangga para petani. Atas dasar ini, gerakan tani pekarangan akan dimulai pada 5 petani di Cikored.

“Sekarang situasinya sudah mulai enak. Teman-teman Odesa Indonesia sudah memiliki pengalaman dan membuktikan hasil serta banyak mengetahui kelemahannya dalam masa pendampingan. Jadi nanti kita akan lebih efektif dalam kegiatan ini,” papar Basuki.

Yayasan Odesa Indonesia Bandung dalam hal pendampingan ekonomi menurut Basuki memainkan peran penting kegiatan tani pekarangan karena terbukti efektif memainkan perubahan ekonomi keluarga, bahkan mengondisikan petani lebih bisa berpikir dan tak kalah pentingnya adalah memberi dampak positif hidup berperilaku bersih rumah tangga karena pekarangannya setiap pagi dan sore mendapat perhatian sehingga tampak hijau dan terurus.

“Dalam mengatasi kemiskinan kelompok bawah, peasant family tersebut kita harus mengondisikan mereka memilih jalan realistis, bukan yang mengawang-awang. Petani jangan sering tergoda untuk mendapat hasil banyak pasti butuh modal besar. Belum tentu. Nyatanya tadi modal besar hasilnya juga cuma 1,3 juta perbulan. Untuk pendapatan sekelas itu sih bisa dengan tanah kecil pekarangan,” jelas Basuki.

Menurut Peneliti Comlabs Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut, apa yang ada sekalipun kecil harus bisa dijadikan modal. Ada lahan sepetak diurus, ada air mengalir diatur, ada modal pupuk dimanfaatkan apalagi kebutuhan pupuk tani pekarangan itu tidak sebesar modal tani ladang yang berat mengangkut dan butuh waktu lebih panjang. Tani pekarangan seember demi seember bisa dimainkan, bahkan hanya pada dua jam di waktu pagi dan dua jam menjelang magrib,” jelas Basuki.-Harti.

2 tanggapan untuk “Basuki Suhardiman: Tani Pekarangan Efektif Menjawab Problem Ekonomi Petani

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: