Remy Sylado, Kelor dan Lukisan

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia.

Saban ke Bandung, Remy Sylado (Yapi Tambayong) biasanya menghubungi saya dan Boy Worang. Kebiasaannya adalah ngobrol banyak hal sehabis mengisi acara. Hari Kamis, 30 Agustus 2018 ini, kebetulan beliau mengisi ceramah di Unpad Jatinangor. Usai acara mampir ke rumah, melanjutkan pertemuan sebulan sebelumnya untuk urusan lukisan yang saya minta agar dijual dengan deal sebagian hasilnya untuk kepentingan kegiatan Yayasan Odesa Indonesia yang semakin banyak kebutuhan terutama untuk urusan Sekolah SAMIN (Sabtu Minggu), sebuah kegiatan rutin setiap sabtu minggu untuk pelayanan pendidikan anak-anak keluarga buruh tani pra-sejahtera di Cimenyan Kabupaten Bandung. Perihal lukisan saya minta untuk kegiatan sosial kami, dan Om Remy setuju. Panjang hubungan kami dalam banyak urusan, beliau orangnya termasuk yang paling enak. Tidak pernah memperumit masalah.

Urusan lukisan ini juga dibantu Om Boy Worang, mantan aktor teater dan mantan orang perbankan. Saya meminta Om Remy agar membuat literasi pada setiap lukisan. Harus ada literasi ringkas sejenis sinopsis yang sering kita baca pada buku. Om Remy setuju. Barulah nanti kita buat katalognya.

Urusan lain adalah kewajiban Om Remy mengajar di Odesa-Indonesia yang selain memberikan pelayanan pendidikan untuk anak-anak desa, para petani, juga sedang merintis pelayanan literasi kepada mahasiswa. Nanti pada waktu tertentu, saat Om Remy Sylado ke Bandung akan ada kegiatan pembelajaran, khususnya ilmu budaya, masuk sebagai agenda literasi sekolah SAMIN yang dipimpin oleh Pak Baiquni (Redaktur Penerbit Mizan).




Saya meminta khusus beliau menyusun materi tersendiri, yakni tentang urusan budaya yang khusus berkaitan dengan pangan karena budaya tidak bisa lepas dari budidaya tanaman pangan. Lagi-lagi Remy Sylado sepakat soal ini. Kita akan bicarakan masalah pangan, terutama gerakan kesadaran hijau yang didorong oleh Boy Worang. Yayasan Odesa Indonesia sudah bergerak serius dalam hal ini. Tapi akselerasi adalah sesuatu yang penting dan membutuhkan orang semacam Remy Sylado dan Boy Worang.

Saya sudah jelaskan panjang lebar mengapa soal petani harus diurus, tentu dengan cara khusus. Cara khusus itu dimulai dari cara pandang/paradigma kita memandang subjek petani dari sisi kewarganegaraan, model yang kita terapkan, dan termasuk bangunan pemikiran untuk produksi keilmuan dalam pergerakan.

Saya sampaikan kepada Om Remy Sylado, kalau seniman sudah sepakat aktif bersama Odesa-Indonesia paradigmanya harus berubah. Kita punya perangkat paradigma dengan istilah-istilah antara lain: “seni mengatasi kemiskinan”, “seni mengatasi gizi buruk”, “seni mengatasi orang buta huruf”, “seni mengatasi sanitasi”, “seni mengatasi pengairan”, “seni mengatasi aliran tai”, “seni mengatasi air seni”, “seni mengatasi erosi lahan”, “seni mengatasi tanaman”, “seni mengatasi ternak/satwa” dan seterusnya.

Salah satu gerakan seni dalam memperbaiki gizi rakyat juga sekaligus perbaikan ekonomi petani adalah menanam dan memakan kelor (moringa oleifera). Kebetulan Om Remy Sylado matanya sudah kurang tahan baca, sementara untuk menulis beliau bilang, mustahil tanpa baca. Dan juga sejak dulu punya penyakit asma. Nah, itu pas. Harus sering minum teh kelor. Saya memberinya, dan mewajibkan beliau mengonsumsinya. Juga membawa bibit kelor dan bibit bunga matahari untuk ditanam di rumahnya, di Bogor. Lagi-lagi, mudah urusan dan langsung menjalankan. []

Beragam Ulasan Manfaat Kelor

2 tanggapan untuk “Remy Sylado, Kelor dan Lukisan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: