Menyalurkan CSR: Tepat Sasaran dan Berkelanjutan

OLEH FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa-Indonesia.

Rekam jejak sejarah hubungan sosial perusahaan dengan masyarakat dimulai dari awal era 1650an. Waktu itu kemajuan industri di Britania Raya membutuhkan infrastruktur yang memadai untuk mobilisasi perdagangan. Infrastruktur yang buruk untuk angkutan barang dagangan, termasuk jalan-jalan yang menghubungkan dengan tenaga kerja sangat merepotkan. Perusahaan tidak akan berkembang cepat manakala terpisah dari urusan sosial karena urusan mobilisasi tenaga kerja membutuhkan infrastruktur dari para petani hingga lokasi pabrik. Itu cikal tumbuhnya urusan sosial perusahaan paling sederhana, sebelum muncul istilah Corporat Social Responsibilty(CSR).



Secara teoritis, Adam Smith (1776), melalui Masterpiece-nya, “The wealth of nations,” melihat pentingnya liberasi ekonomi untuk meledakkan produktivitas sehingga nanti muncul kesadaran dari keuntungan tersebut, sebuah bangsa makmur bisa melakukan pertumbuhan ekonomi melalui kegiatannya untuk bangsa lain. Karena alasan itu, diperlukan percepatan pertumbuhan perusahaan, artinya memperkuat mobilisasi tenaga kerja, dan secara otomatis muncul kebutuhan pelayanan skill, pelayanan terhadap petani di komune-komune, dan juga pelayanan transportasi publik.

Jauh di kemudian abad, tepatnya era 1960-an, mulai tumbuh literasi tentang hubungan perusahaan dan sosial. 10 tahun kemudian tumbuh kesadaran baru atas masalah baru, yaitu pencemaran lingkungan akibat ulah perusahaan. Lembaga Opinion Research Corporation di Amerika Serikat yang melakukan survei terhadap masyarakat pada tahun itu, punya rekam jejak menarik; terdapat dua pertiga dari responden yang menyatakan perusahaan itu penting membawa kewajiban moral guna memperbaiki masyarakat.

Karena alasan inilah kemudian rumusan Corporat Social Responsibility (CSR) muncul dengan gagasan etis. Di kemudian hari, rumusan etis ini tidak cukup untuk modal kesadaran para pemilik perusahaan. Daniel F. Runde, Wakil Presiden senior Project on Prosperity and Development menulis Opini berjudul “Evolution Corporate Social Responsibility” (16/03/2011). Menurutnya, ada fakta, banyak perusahaan melakukan CSR motifnya adalah untuk membendung kritik ketimbang melakukan pembangunan nyata.

Era Kemajuan CSR
Itu banyak terjadi di era sebelum 1990-an. Era sekarang, di belahan dunia sudah ada peningkatan kesadaran yang lebih maju, termasuk kegiatan filantropi yang berhasil banyak menyelesaikan problem-problem masyarakat lapisan bawah.

Kemajuan yang pertama adalah meningkatnya CSR sebagai tanggungjawab pembangunan manusia. Semua perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang berkualitas, karena itu banyak perusahaan mengalokasikan CSR untuk pendidikan, toh pada akhirnya mereka juga bisa menyeleksi hasil pembangunan SDM itu untuk diserap dalam lapangan kerjanya.

Kemajuan kesadaran kedua adalah, bahwa kerusakaan lingkungan yang begitu besar pada akhirnya tidak mengenakkan semua pihak, termasuk pemilik perusahaan. Bergeraklah CSR ke lapangan untuk urusan “hijau”. Sayangnya, gerakan tanam lebih banyak sporadis dan narsis. Tema gerakan sejuta pohon yang ditanam hanya ribuan, yang hidup terawat hanya ratusan.


Era Baru CSR

Kemajuan ketiga, namun ini masih jarang dilakukan, bahwa untuk urusan CSR, perusahaan tidak bagus kalau hanya sekadar mendonasikan uangnya, melainkan sangat bagus saat para karyawan dan pimpinan perusahaan terjun langsung ke jantung masyarakat yang terbelakang. Sebab dari model ini, setiap pelaku aksi CSR di lapangan akan mendapatkan nilai-nilai lebih misalnya, para karyawan akan lebih maksimal berkomunikasi dengan konsumen, para manager akan lebih mengerti keadaan konsumennya. Bahkan lebih jauh dari itu, karyawan yang di perusahaan akan punya spirit baru dalam bekerja karena persinggungannya dengan lapisan masyarakat bawah. Bahkan banyak yang mendapatkan tenaga kerja saat berlangsung gerakan kesukarelawanan masuk desa atau gang-gang kumuh di perkotaan, termasuk mendapatkan akses bahan baku yang sebelumnya tidak masuk dalam perhitungan perusahaan.

Model gerakan CSR yang ketiga ini sangat menarik karena selain multi-manfaat juga berkelanjutan. Kita harus memulai bergerak ke arah sana supaya menjadi tradisi dan bahkan memperluas menjadi gerakan berkelanjutan ke arah filantropi. Logikanya, seandainya aksi CSR ini waktunya terbatas, para karyawan-karyawan yang bekerja sebagai sukarelawan dalam waktu tertentu itu bisa nantinya melanjutkan gerakan dengan modeling filantropi. Ini modal penting untuk mengambil peran menyelesaikan masalah-masalah sosial di Indonesia.

Secara umum di Indonesia CSR masih sebatas urusan tanggungjawab perusahaan (bukan tanggungjawab sosial) agar terbebas dari pajak yang lebih tinggi. Satu hal yang masih memprihatinkan adalah, bahwa kegiatan CSR itu juga tidak tepat sasaran, tidak mengena jantung masyarakat paling sengsara dan sangat membutuhkan. Orang-orang di perusahaan memiliki “label” sibuk, waktu luang tidak ada karena libur berarti wisata bersama keluarga. Sementara persentuhannya dengan konsumen sebatas pada divisi marketing yang itupun sebatas urusan transaksional. Padahal, kalau memakai CSR model ketiga di atas, akan banyak hal-hal baru yang akan didapatkan dari lapangan, termasuk menyadarkan karyawan perkotaan yang lemah etos kerjanya tetapi berisik urusan kenaikan gaji sementara di desa-desa banyak petani etos kerjanya luar biasa sekalipun hidupnya tetap miskin. Bukankah perusahaan juga enak kalau karyawannya mahir bersyukur?

Atas dasar pengetahuan itu, sudah saatnya kegiatan CSR ini masuk dalam mindset pendidikan, terutama pendidikan menemukan hal baru dan membangun kesadaran baru bagi para karyawan. Dengan cara itu, masyarakat lapisan bawah pada keluarga pra-sejahtera (sangat miskin) mendapatkan berkah penyelesaian masalah, sementara karyawannya juga mendapatkan keuntungan berupa pelajaran hidup dari kehidupan orang-orang miskin.

Yang selanjutnya perlu lebih diperhatikan, kegiatan CSR tidak baik kalau terfokus pada urusan monumen material, seperti sebatas mendirikan bangunan karena alasan visual langsung mewujud mudah dilaporkan dengan foto dan mudah dikirim beritanya ke media massa. Pembangunan infrastruktur itu penting, apalagi menyangkut infrastruktur sarana MCK (Mandi, Cuci, Kakus), Infrastruktur ruang belajar desa, infrastruktur rumah gubuk, infrastruktur pengairan, infrastruktur sampah, dan seterusnya.

MCK Buruk
MCK pedesaan di Cimenyan kabupaten Bandung

Namun kalau kegiatan CSR hanya berhenti pada usaha pembangunan sarana yang sifatnya fisik/material, kita sebenarnya sedang bergerak di tempat, karena yang dibutuhkan untuk melepas belenggung kemiskinan atau keterbelakangan adalah ilmu pengetahuan, dan itu hanya bisa dilakukan dengan tindakan pendidikan melalui jalan pendampingan model “sekolah informal”. Indonesia sedang butuh kegiatan CSR dan Filantropis yang kuat untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kebodohan melalui jalur informal (non-negara) karena aktor-aktor negara kita kualitasnya masih rendah dalam mengambil kebijakan, apalagi bertindak kreatif menyelesaikan masalah pada lapisan bawah. Ketika kemiskinan dan kebodohan berbalut menyajikan realitas kusam kehidupan, maka disitulah dibutuhkan tindakan pencerahan. Maka pendidikan skill tenaga kerja, pola hidup bersih/sehat, model memasak makanan bergizi, gerakan literasi, dan lain sebagainya sangat dinantikan.

Mungkin terlalu sulit mewujudkan itu, tetapi ini hanya soal belum terkoneksinya antara perusahaan dengan masyarakat lokal. Jika nanti sudah sering terjun ke lapangan, akan selalu ada pintu kemudahan dalam hal relasi dengan warga lokal yang bisa dijadikan sandaran kerja sama, termasuk dengan organisasi-organisasi lokal yang sehat dan bisa didorong untuk lebih lama bergerak dengan support CSR.

CSR pendidikan pertanian odesa bandung
CSR pendidikan pertanian perlu diberikan kepada anak-anak petani

Kegiatan proyek pembangunan dan program kegiatan harus laras, berlangsung seimbang antara pembangunan fisik dan pembangunan sumberdaya manusia, dan dijalankan para karyawan sekaligus pimpinan perusahaan bergotong-royong dengan warga. Bergiatlah untuk kemanusiaan karena toh bekerja di perusahaan juga urusan manusia. Menjadi manusia seutuhnya dengan komitmen kemanusiaan berbasis empathy, disertai langkah strategis untuk kesuksesan pembangunan yang nyata akan sangat bernilai bagi perusahaan itu sendiri. Mulanya akan sedikit ribet karena belum menjadi tradisi, tetapi manakala sudah terbiasa akan mudah dengan sendirinya. Urusan aksi sosial CSR dengan rumus pendampingan akan bisa menjadi penerang kegelapan pada orang-orang yang hidupnya sengsara.[]

Cara Memperbaiki Kehidupan Keluarga Petani
Menyalurkan Bantuan Tepat Sasaran
Empat Eleman Perbaikan Hidup Petani Desa
Menyalurkan CSR Tepat Sasaran Berkelanjutan



Satu tanggapan untuk “Menyalurkan CSR: Tepat Sasaran dan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: