Pendidikan yang Melayani

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa-Indonesia.
Pendidikan yang melayani. Ini adalah spirit utama yang sedang ditegakkan oleh Odesa Indonesia dalam memperbaiki keadaan manusia Indonesia, di perdesaan, di pinggir kota Bandung, Kecamatan Cimenyan. Kata pelayanan harus dipakai karena keadaan objektif menuntut hal tersebut.

Konsep pelayanan digunakan sebagai cara mendasar untuk menjawab persoalan yang terjadi. Kejadian yang nyata adanya adalah bahwa di kampung-kampung Cimenyan itu bukan hanya tertinggal, melainkan keterpurukan. Ketika zaman semakin maju, ketika desa-desa lain sudah mengalami kemajuan, nyata kita temukan di Cimenyan fakta-fakta yang mencengangkan tentang kemerosotan kualitas hidup. Modernisasi hanya ada pada listrik dan televisi, di luar itu warga petani kecil (peasant) mengalami marjinalisasi.

Kita harus melayani dengan banyak hal karena keluarga petani kecil (peasant) itu mengalami kelemahan secara kultural. Interaksi keseharian di Cimenyan semenjak 2016 silam membuktikan masyarakat pinggiran kota yang jaraknya sekitar 4-15 km dari Kantor Gubernur Jawa Barat ini bukan saja lekat dengan problem Budaya Kemiskinan, melainkan lebih parah lain, telah mengalami Kemiskinan Budaya. Potret Buram Pendidikan Cimenyan

Segmen terpenting yang harus ditangani secara serius adalah anak-anak, remaja dan dewasa yang jauh dari semangat pendidikan. Mereka adalah generasi yang harus dipisahkan dari kultur Kemiskinan Budaya dan solusinya adalah pendidikan. Lalu kami pun berpikir. Masalah sekolah (bangunan fisik memang kurang). Dan itu negara atau pihak swasta sangat penting bertindak segara karena memang salahsatu alasan rendahnya partisipasi sekolah usia wajib belajar juga disebabkan oleh jarak dan kosongnya transportasi publik sehingga sangat membebani orang tua. Faktor ini menyebabkan anak-anak yang lulus sekolah Dasar sulit melanjutkan sekolah SMP. Yang sudah lulus SMP semakin kecil bersekolah SMA karena jarak semakin jauh dan kurang pilihan.




Faktor kedua menyangkut cara berpikir kebanyakan orangtua yang memang tidak memiliki komitmen untuk sekolah. Beban ekonomi memang menjadi masalah, namun harus dilihat pula sisi lain, yaitu ketidaktahuan pentingnya pendidikan sebagai modal hidup. Faktor ini terjadi pada kasus-kasus anak putus sekolah dasar, sekolah SMP dan Sekolah SMA. Sekalipun orangtuanya sebenarnya masih mungkin sedikit memaksakan anaknya lanjut sekolah namun faktanya banyak yang putus sekolah. Ada yang berpikir “sekolah tinggi-tinggi ujungnya juga nyangkul.” Ada yang bilang, “kalau sekolah siapa yang membantu bapak dan emak kerja.” Ada pula yang berkata, “yang sekolah sampai SMA juga tidak jadi apa-apa.” Juga pernah terdengar ungkapan,”yang kuliah dan jadi pejabat desa juga jelek karena cuma mementingkan dirinya sendiri.”

Dua faktor ini saja sudah sedemikian mendasar untuk dijawab. Itulah mengapa kemudian dalam usaha menegakkan pendidikan harus melayani. Melayani melalui pendekatan kepada satu persatu anaknya, termasuk pendekatan kepada orangtuanya agar memiliki bisa berpikir lebih jernih; keluar dari cara berpikir yang salah.

Pendidikan luar sekolah adalah usaha memberikan pelayanan yang terbaik dalam menghadapi masyarakat seperti itu. Pendidikan luar sekolah sebagai back-up pendidikan formal menjadi kebutuhan karena pendidikan formal juga sangat tidak banyak menolong perbaikan pengetahuan, skill dan karakter. Tampak banyak fakta ditemukan dalam setiap kegiatan kursus mingguan yang digelar Odesa Indonesia menampakkan hasil pendidikan sekolah formal tidak begitu bagus. Sekolah di desa yang seharusnya memberikan pelayanan lebih baik karena melayani keluarga petani terlantar ini justru sering hanya jadi program sampingan pemerintah, maksudnya mengesampingkan. Mengesampingkan sarana, mengesampingkan jumlah mayoritas anak petani terbelakang, mengesampingkan pentingnya guru-guru unggul dan berdedikasi dalam pembangunan SDM, dan seterusnya.

Spirit pelayanan kemudian dimaklumi oleh para pengurus Yayasan Odesa Indonesia. Setiap sukarelawan senior alih-alih mendapatkan honor. Mereka yang minat memberikan pendidikan bagi anak-anak petani di Cikadut dan Mekarmanik ini juga harus melayani waktunya secara rutin. Saat mengajar juga tidak kaget kalau harus nombok transport, harus rela mencarikan buku, membiayai ragam kebutuhan alat peraga dan bahkan juga memperhatikan pangan dan pakaian dari keluarga Pra-Sejahtera (sangat miskin/fakir).

Pelayanan beragam persoalan ini harus dilakukan. Kesadaran kita menjadi relawan bukan sekadar karena kita bisa mengajar, melainkan juga harus diuji sebagai pelayan ekonomi, pelayan kesehatan, dan pelayanan sosial lainnya. Ini bukan hal yang berat bagi pecinta perubahan, melainkan hal yang menantang dan menyenangkan. Kita memiliki kesadaran bahwa kesenjangan pada dunia pendidikan anak desa harus diatasi dengan mengambil spirit empathy pada mereka yang marjinal, harus memahami bahwa orang kota yang anak-anaknya bisa sekolah tinggi dan berbiaya mahal berkaca pada sulitnya pendidikan anak-anak petani.

Pendidikan berbasis pelayanan ini memungkinkan setiap orang untuk membagikan keilmuan, waktu, biaya dan mungkin juga akan merampas kesenangan kita. Karena itulah dibutuhkan para sukarelawan yang benar-benar, bukan hanya tulus, melainkan benar-benar tangguh secara mental untuk mendedikasikan diri dalam usaha perbaikan manusia ini. Praktik-praktik (model) pembelajaran aktif harus dominan dijadikan sandaran kerja pelayanan. Bahkan sejumlah rumus tertentu tak cukup berangkat dari modal pengalaman sebelumnya, apalagi hanya bersandar pada modul tekstual. Kontekstualisasi harus lebih diupayakan dalam setiap kerja pendidikan. Interaksi informal harus terus dilakukan untuk membuka ruang dialog (model deliberatif) agar setiap pengetahuan harus menjadi produksi tindakan yang mampu memperbaiki keadaan.
BACA JUGA Pembelajaran Aktif Odesa Indonesia di Cimenyan





Odesa Indonesia mengusahakan pendidikan yang melayani dengan prinsip bahwa harus ada kesukarelaan dari gen-gen yang kuat untuk menyelamatkan gen-gen yang lemah dan tertutup kesempatan untuk berevolusi lebih baik. Usaha ini penuh makna. Dari empathy melahirkan aksi. Dari aksi melahirkan banyak ilmu pengetahuan yang baru. Dari pengetahuan yang baru yang didapat dari lapangan itu banyak memberikan pengalaman hidup kepada para sukarelawan. Ending dari praktik kegiatan ini bahwa semua pihak diuntungkan. Keluarga petani merasakan manfaat besar untuk perbaikan kehidupannya, para sukarelawan mendapatkan kekuatan besar dari galian emas ilmu pengetahuan dari Cimenyan.[]

Jelang Ajaran Baru, Banyak Anak Petani Cimenyan Butuh Bantuan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: