Kemiskinan Petani dan Tanggungjawab Intelektual

Oleh: FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa-Indonesia Bandung

Salahsatu persoalan mendasar keterpurukan Indonesia adalah urusan pertanian. Lebih tepatnya adalah keterpurukan para petani (Sumber Daya Manusia penghasil pangan). Mayoritas penduduk negeri ini adalah petani, tetapi impor bahan pangan sejak dulu hingga kini menjadi rutinitas. Kita lemah dalam hal penguatan petani.

Para petani di desa-desa tidak dibekali pengetahuan yang memadai. Teknologi kita masih zaman lampau. Teman saya Basuki Suhardiman dari ITB sering bilang, alat cangkul petani masih zaman Majapahit. Urus ternaknya masih model zaman Damarwulan dengan aritnya. Pengolahan hasil panen tidak dilakukan. Kalau pun dilakukan masih model zaman Mataram. Jadi ini problem besar karena dunia telah berubah pesat. Negara tidak pernah serius urus kebutuhan para petani. Program yang paling maju sering dilakukan sebatas subsidi pupuk, itupun terus dilanda persoalan. Negara lupa bahwa petani harus mandiri dalam pupuk karena itu mestinya pendidikan pembuatan pupuk organik harus dilakukan pada setiap petani. Kalaupun ada pemberdayaan maksudnya ternyata hanya penyuluhan, bukan pendampingan. Jadi inilah kenaifan yang tak pernah diselesaikan oleh negara dari zaman Bung Karno, hingga kini di era Jokowi.

Sudah saatnya orang-orang berilmu menyisakan waktu untuk tujuan pembangunan peradaban ini. Para penyair, wartawan, aktivis, pengajar mesti berperan aktif dalam kegiatan pertanian karena ini adalah urusan peradaban, urusan kualitas politik dan urusan kemanusiaan. Kekeliruan para ilmuwan memandang peradaban hanya dari sisi literasi/pendidikan. Tapi literasi untuk siapa? Itu yang seringkali tidak jelas arahnya.

Kita mesti memakai rumus baru dalam memandang peradaban. Yang pertama harus diletakkan bahwa pembangunan peradaban itu harus dimulai dari budaya. Budaya yang kuat akan menentukan kuatnya peradaban. Bagaimana masyarakat bisa berbudaya lalu kemudian berkeadaban? Rumusnya ada empat. Pertama harus diperkuat urusan pangan, kedua harus diperkuat urusan ternak atau satwa. Ketiga harus diperkuat urusan literasi/pendidikan, dan keempat harus diperkuat penggunaan teknologi — syukur-syukur mampu produksi teknologi yang bisa menyokong semua kegiatan tersebut.

Budaya adalah adalah kemajuan dari tradisi. Kebudayaan yang kuat akan bersandar dari pangan yang kuat, termasuk ternaknya. Jika ekosistem dan ekologi berjalan, niscaya kehidupan masyarakat akan membaik. Kita hidup di era demokrasi. Tegaknya demokrasi salahsatunya adalah tegaknya kualitas manusia bermental demos. Dan untuk meraih demos maka kualitas oikos (rumah tangga) harus diperkuat. Kita tidak mungkin bicara partisipasi aktif manakala kualitas manusia Indonesia masih rendahan; kurang gizi, kurang ilmu, kurang adaptif terhadap teknologi dan kurang memiliki imajinasi hidup yang berkualitas.

Jika ini tidak ditangani, maka petani kecil (golongan peasant) akan migrasi ke kota menjadi kuli. Orangtuanya yang tak tahan hidup miskin akan melepaskan tanahnya dan “mengusir” anak-anaknya ke kota. Lagi-lagi, berduyun-duyun ke kota menjadi kuli, kerja keras siang malam duitnya habis untuk pemenuhan pangan impor. Sudah miskin mentalnya konsumerisme. Ini yang berbahaya. Kita butuh solusi baru pada petani agar bermental produsen, lebih dominan menjual ketimbang membeli.

Mengatasi masalah itu kita butuh waktu. Pengertian waktu di sini adalah, bahwa kita harus menyediakan waktu di luar kesibukan kita untuk membawa obor pencerahan hidup bagi petani. Mengajarkan model-model penggalian manfaat pertanian, membuka kesempatan mereka mendapatkan akses informasi dan akses penyaluran penjualan hasil panen, dan yang lebih penting lagi adalah mendesain hidup yang lebih produktif dan memiliki makna.

Literasi harus kita bawa ke rumah tangga petani. Banyak sekali ilmu pengetahuan gratisan di internet yang menawarkan gagasan dan praktik baru pertanian baru yang lebih efektif dan murah, tetapi tidak pernah dicoba oleh para petani. Kesenjangan akses informasi/ilmu pengetahuan ini harus diatasi dengan cara organik, yakni kegiatan partisipatif antara kaum terpelajar bersama dengan para petani. Orang-orang terpelajar tugasnya adalah 1) memahami keadaan hidup petani. 2) setelah paham betul, barulah kita tetapkan solusi yang sesuai kebutuhan dari tahapan proses yang dibutuhkan. 3) pendampingan mutlak dibutuhkan dengan kelengkapan ilmu pengetahuan, modal dan perhatian yang kontinyu.

Apakah itu sulit dilakukan? Jawab saya mudah, dengan catatan kita memiliki kesadaran tanggungjawab intelektual. Kalau intelektualnya mengindap penyakit mental miskin tentu semua akan jadi serba susah. Tapi kalau mikirnya strategis, bahwa mengurus pembenahan pangan (budidaya/budaya) dan merawat ekosistem dengan satwa adalah kewajiban, tentu urusannnya akan lain.




Kita bisa memulai dari langkah yang paling mungkin. Kita tidak usah jadi penyuluh pertanian yang ribet oleh sejumlah rumus konvensional. Metode-metode penyuluh pertanian golongan Dinas sudah ketinggalan zaman dan sering parsial dalam bertindak. Lupakan dan mari kita terapkan model-model baru yang sangat kaya. Ilmunya dari eksternal (internet) dan dari internal kita sendiri (Praktik lapangan). Misalnya kita tidak tahu pertanian, namun kita punya kesadaran bahwa tanaman-tanaman sorgum, hanjeli, kelor, bunga matahari, buah tin, dan sejenisnya merupakan tanaman penting untuk kebaikan pangan rumah tangga petani, maka kita pelajari item-item dasarnya saja. Kita cukup kuasai pengetahuan dasar manfaat tanaman. Selebihnya petani yang menanam. Kita berikan modal bibit/benih. Tidak akan mahal dan tidak akan membangkrutkan finansial kita. Lalu kita arahkan petani menanam dalam ujicoba yang mungkin dilakukan dengan modal kerja yang kita berikan. Hasil panen nanti kita beli dan kita bantu marketingnya.

Hal yang terpenting dalam proses kegiatan intelektual dengan petani kecil (peasant) ini juga perlu mempertimbangkan soal konsep pertanian pekarangan dan ladang kecil. Kita tahu petani itu kegiatan produksi, artinya butuh modal besar. Maka dengan memulai di lahan pekarangan dan ladang kecil justru akan lebih efektif. Berpikir luasnya lahan tapi mengabaikan luasnya pemikiran adalah kecelakaan. Kita butuh ilmu yang luas untuk menghasilkan produksi yang massal dan berkualitas. Tetapi semua kebesaran harus dimulai dari langkah kecil. Panjang jalan yang harus ditempuh, semuanya harus dimulai dari langkah pertama. Tani pekarangan adalah kata kunci untuk memasuki pintu perubahan. Tegakkan prinsip “barangsiapa tidak bisa mengolah lahan kecil, mustahil mampu mengurus lahan luas.”

Saya kira model kegiatan seperti ini tidak akan menyita uang hingga Rp 1 juta. Bahkan saya sudah mulai terbiasa memberikan modal dimulai dari Rp 300.000 ribu untuk para petani kecil. Hasilnya dari sekian puluh petani, 70% berhasil. Yang gagal adalah kelaziman karena faktor-faktor yang belum kita temukan solusinya. Itu perkara biasa. Diulang lagi juga berhasil.

Negara kita butuh peran dari intelektual. Kita tidak boleh terus menerus menyalahkan negara, tentu bukan negara tidak salah. Tetapi berkelanjutan gerundelan terhadap pemerintah tanpa aksi konkret itu hanya akan menghabiskan umur. Mengapa rakyat (petani) miskin? Apakah kemiskinan menyebabkan kebodohan, atau sebaliknya? Jawabnya bisa berbolak-balik. Tapi yang paling sahih adalah bahwa negara/pemerintahlah yang bodoh tidak mampu mengurai benang kusut persoalan yang dihadapi produsen pangan/petani.

Jadi kalau kita sudah paham sumber masalah, bahwa letaknya pada “kebodohan pemerintah,” tentu yang terpenting kita sendiri yang turun ke lapangan; mengambil peran konkret dalam lapangan amal mulia menegakkan kebudayaan agar kehidupan kita lebih beradab.

Teman saya, Budhiana Kartawijaya, punya pandangan menarik dalam urusan ini. Katanya, situasi kehidupan telah banyak berubah. Media massa menghadapi persoalan besar pada kehidupan ini. Maka, jurnalisme juga harus memainkan peran yang lebih, tidak sekadar sebagai alat pengontrol kekuasaan dengan menyuarakan persoalan lapangan melainkan juga harus menjadi bagian dari solusi di lapangan. Katanya, media massa yang bekerja secara konvensional dalam situasi gerumuh pewartaan seperti sekarang ini bisa mati kutu menghadapi masyarakat yang sudah memiliki banyak pilihan segmen pemberitaan, bahkan telah mampu dan melampaui penyebaran berita. Sayangnya kalau yang diproduksi itu adalah pewartaan yang tidak jelas, lebih-lebih semata urusan hoak politik dan sentimen SARA, maka kecenderungan ini bisa merusak situasi demokrasi. Karena itu mestilah para jurnalis turun ke lapangan. Banyak keluarga petani pra-sejahtera (sangat miskin) yang butuh perhatian.

Saya kira memang seharusnya kaum borjuasi seperti jurnalis, penyair, aktivis, dosen dan pengusaha harus mimiliki tanggungjawab kerja dalam lapangan ini. Pengalaman dua tahun Odesa Indonesia memainkan kegiatan di lapangan Kawasan Bandung Utara (KBU) membuahkan banyak hasil; sedikit demi sedikit perubahan terjadi; dirasakan oleh petani, dirasakan oleh kita semua. Kita pun banyak menyerap pengetahuan baru tentang hubungan hidup antar warga, hubungan antara negara dengan rakyat yang tidak nyambung, dan juga pengetahuan dan pengalaman penting tentang hakikat pendampingan.

Bahkan terkadang, sekalipun kita mendampingi petani, urusannya tidak selalu budidaya pertanian. Pada petani miskin, ada persoalan besar yang kita sebut “kemiskinan budaya.” Urusan pendidikan melalui pendampingan seperti yang dilakukan Pak Enton Supriyatna (Pemimpin Redaksi Koran Galamedia Bandung) juga menghasilkan banyak perubahan. Pak Enton punya konsentrasi membenahi masalah sanitasi, membangunkan sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) dan itu mengubah perilaku hidup bersih para petani miskin yang sebelumnya hidup jorok tidak beradab. Demikian pula yang dilakukan oleh Aktivis Nahdlatul Ulama Jawa Barat, Khoiril Anwar bersama para aktivis Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati Bandung (Harti dan Rizki) yang menaruh perhatian pada Pendidikan Luar Sekolah anak-anak petani miskin. Dengan interaksi dan kreasi pendidikan sesuai kebutuhan mereka, dalam waktu satu tahun terdapat banyak perubahan yang membahagiakan. Mereka menjadi lebih baik dalam memandang hidup dan memandang masa depannya.

Kita semakin percaya bahwa kegiatan organik; membumi dalam kebersamaan ini ke depan akan membuahkan hasil yang besar karena pelajaran dari kegiatan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui FAO dan WHO juga membuahkan hasil besar. Intinya, yang mengubah keadaan hidup menjadi lebih baik adalah manakala terhadap perbaikan rumah tangga petani miskin (golongan peasant). Dan perubahan itu secara signifikan dilakukan oleh kaum borjuasi yang sukarela mendermakan waktu, pikiran dan mencari modal untuk perbaikan hidup mereka. Jangan pesimis dan terus murung dalam kamarmu dan menghabur-hamburkan permainan medsos tanpa mengangkat persoalan lapangan. Keluar dari kemubadziran waktu, turun ke lapangan, dan gunakan medsos serta kemampuan pewartaan kita untuk perbaikan hidup mereka; para petani miskin yang rumahnya reyot, yang anak-anaknya kawin usia dini, yang tidak bersekolah, yang jarang mandi, yang a-sosial karena mentalitas miskinnya, yang terpuruk digilas modernisasasi. Mereka adalah korban dari tragedi kesenjangan sosial.

Problem terbesar Indonesia ada di desa, pada manusia desa, bukan semata infrastruktur desa. Petani harus dikuatkan kualitas ekonomi dan kualitas hidupnya. Tugas politisi yang utama bukan poligami, melainkan menyelesaikan masalah petani. Tugas wartawan yang utama bukan nyari berita sensasi melainkan menjawab problem harian petani, tugas penyair yang utama bukan berternak kosa-kota, melainkan menyuarakan masalah ketidakadilan, dan tugas budayawan bukan sekadar menggelar even kesenian melainkan memperbaiki budidaya pertanian.[]

Lima Tulisan Tentang Kemiskinan Bandung Utara dan Cara Mengatasinya
Pendampingan yang Membumi

2 tanggapan untuk “Kemiskinan Petani dan Tanggungjawab Intelektual

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: