fbpx

Kegiatan Pembibitan Kelor Remaja Pasir Impun Bandung

Tiga remaja Pasir Impun Cimenyan Bandung, Azis, Azhar dan Icha, mengisi waktu liburnya di bulan puasa ini dengan mengikuti kursus pembibitan Moringa Oleifera (Kelor) bersama Ketua Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) Rusmana (Sabtu 2 Juni 2018) Media tanam yang cocok dan bagus pada pembibitan kelor menggunakan tiga komponen. Pupuk Kandang, Daun/tanah Bambu, dan Sabut Kelapa.

Menurut Rusmana, kegiatan pembibitan tanaman obat, terutama kelor (moringa oleifera), menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh Taoci. Yayasan Odesa Indonesia sebagai inisiator gerakan budidaya pangan mencanangkan penyebarluasan tanaman kelor di masyarakat Kecamatan Cimenyan dan daerah lain. Pada bulan Juni ini Rusmana menarget 3.000 bibit kelor didapatkan. Sebagian dari 7 petani binaan, dan sebagian lagi diurus organisasi Taoci melibatkan remaja desa.

“Setelah kami mendampingi para petani dan memiliki banyak pengalaman dalam menghasilkan bibit kelor, sekarang kami bisa meluangkan sesi pendidikan pembibitan ke kalangan remaja. Hal ini supaya kita memiliki banyak potensi dari sumber daya manusia di desa yang mahir dalam pembibitan,” katanya kepada odesa.id, Sabtu, 2 Juni 2018.

Media tanam kelor. Percampuran Tanah dari bawah pohon bambu 1 Karung. Pupuk 1 Karung, 1/3 sabut kelapa (penyimpan air/musim kemarau sangat dibutuhkan supaya hemat penyiraman). Pupuk siramnya nanti pakai cairan daun kelor dan urine kelinci. Hasilnya luar biasa bagus. Salahsatu contohnya adalah pada gambar usia 1,5 bulan pada polybag kemudian dipindahkan pada tanah dengan media tanam yang sama menghasilkan pertumbuhan cepat 4 bulan setinggi 1 meter lebih dengan batang yang kokoh.

Rusmana menambahkan, sebagian bibit tanaman kelor ini dijual, dan sebagian ditanam sendiri di Cimenyan dengan mendorong para petani membudidayakan kelor. Sebab menurutnya, setelah hampir satu tahun sosialisasi kepada petani, minat para petani sekarang sangat tinggi. Saat ini mulai banyak yang meminati tanam kelor sekalipun untuk skala terbatas. “Mereka mulai tahu manfaat daun kelor sebagai bahan minuman dan sayuran kesehatan,” katanya.




Yayasan Odesa Indonesia menurut Rusmana memiliki laporan yang menggembirakan atas usaha budidaya tanaman kelor ini. Sebab banyak masyarakat yang sakit-sakitan dan berhasil sembuh setelah rutin mengonsumsi kelor. Di antara penyakit yang sudah sembuh di kalangan petani antara lain asam urat, rematik, migrain, diabetes, sakit kepala berkepanjangan, sulit tidur, dan gula darah. “Bahkan ada yang terkena kanker payudara sekarang benjolannya menghilang,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: