Empat Elemen Perbaikan Hidup Petani Desa

OLEH FAIZ MANSHUR. KETUA ODESA-INDONESIA
Mengurus hidup mula-mula yang diperhatikan adalah udara, kemudian air, bahan pangan dan keamanan.

Empat hal yang mendasar ini muncul dari perhatian saya terhadap situasi kehidupan tradisional di masyarakat pinggir hutan Kecamatan Cimenyan. Saya dan teman-teman di Yayasan Odesa-Indonesia setiap waktu berpikir keras untuk mengurai benang-kusut kemiskinan ekonomi yang telah masuk pada level kritis “kemiskinan budaya.”

Pada urusan hidup ini kita ditantang oleh satu pertanyaan mendasar “ mengapa keluarga petani kecil ini hidup miskin dan sulit berkembang”, padahal alam begitu subur dan dekat dengan modernisasi kota yang mestinya membuka peluang usaha lebih baik. Dua tahun berjalan (2016-2018), kami semakin paham solusinya bukan model adoptif ilmu pertanian dari luar daerah atau sembarang memainkan teknologi, termasuk juga tidak langsung mengadopsi koperasi hanya karena alasan petani butuh kredit. Pendampingan ekonomi orang miskin




Maka dari itu, perlu dipikirkan usaha agar masyarakat ini berkembang hidup lebih baik. Kata baik ini juga berangkat dari ukuran “kecukupan” dasar. Dari situlah saya berpikir empat komponen dasar itu harus terpenuhi. Untuk udara anggap tidak ada masalah karena iklim di pinggir hutan sangat menyokong ekologi. Untuk air letak problemnya bukan pada sumber. Secara umum sumber air begitu banyak, kualitasnya sangat bagus, tetapi akses untuk rumah tangga dan pertaniannya sangat belepotan. Karena faktor akses inilah situasi kesehatan rumah tangga kurang memadai.

Untuk masalah air terang ini harus diselesaikan oleh negara karena air adalah kebutuhan publik. Sumber-sumber air banyak yang telah diprivatisasi dan menjadi milik individu, sebagian dimiliki perusahaan, dialirkan ke perkotaan Bandung untuk tujuan komersil, sementara warga kampung di Cimenyan kekurangan air bahkan pada musim penghujan sekalipun.

Kemudian pada masalah bahan pangan terdapat problem yang besar. Alam subur menyediakan kesempatan beragam jenis tanaman yang bisa tumbuh baik. Bahkan beberapa ujicoba tanaman baru yang dilakukan oleh para petani yang bergiat bersama Odesa Indonesia (yang sebelumnya tidak diketahui atau dibantah petani) ternyata berkembang baik. Bukan hanya itu, beberapa jenis tanaman yang menyokong sistem ekologi seperti Bunga Matahari (Sun Flower), Daun Afrika (Veronia Amygdalina) dan Kelor (Moringa Oleifera) misalnya, juga berdampak baik pada lingkungan, terutama menurunkan serangan hama. Bukan hanya tanaman bijian, tetapi tanaman buah begitu mudah tumbuh dengan hasil buah yang tidak diragukan lagi produktivitasnya. Petani keluarga petani yang kini hamper mayoritas menjadi buruh tani semakin lama semakin miskin bukan karena urusan lahan, melainkan lebih pada urusan ilmu pengetahuan budidaya tanaman pangan. Mengapa Pertanian Butuh Bunga Matahari?

Untuk masalah pangan, solusi perbaikannya sebagian harus masuk pada keluarga buruh tani miskin yang tidak memiliki tanah pribadi atau memiliki dengan jumlah minim di bawah ¼ hektar. Problem pangan menjadi begitu pelik bukan karena tanah, melainkan pada skill pertanian yang turun-temurun dan tidak mengembangkan kebutuhan market, tidak ada pengetahuan tentang bibit, tidak kreatif memainkan aset lahan kecil, dan tidak ada kepeloporan gerakan. Petani atau buruh tani semestinya adalah produsen pangan; dengan demikian mestinya mereka hidup seperti pedagang nasi warteg yang sudah barangtentu kelimpahan pangan sekalipun mungkin tidak stabil saban hari penghasilannya.

Petani di Cimenyan ini selain kekurangan pangan yang bergizi dan kurang memiliki banyak jenis buah juga cenderung tidak memiliki kemampuan mengembangkan model hidup yang kuat dalam urusan pangan. Mereka bisa mendapatkan uang secara tidak jelas kapan, tetapi mereka jelas harus selalu makan. Bergantung pada upahan adalah sebuah kecerobohan kultural yang turun-temurun karena kompetensi SDM mereka yang rendah hanya akan melakukan pekerjaan orderan seperti buruh tani (yang peluangnya hanya antara 7-12 hari kerja). Keluar ke kota mencari penghasilan yang lebih baik pun tidak mampu menolong dari kekurangan hidup, bahkan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Model-model pertanian baru yang berbasis lokal mesti dibangkitkan, dan konsep tani pekarangan sangat mendasar paling tidak untuk keluarga petani minim lahan. Agro-ekologi perlu dibuat model pada level keluarga dan level Rukun Tetangga (RT) agar satu persatu persoalan di kampung-kampung petani Cimenyan ini berproses hidup ke arah yang lebih baik.

Kemudian pada keamanan hidup bisa dibilang tidak begitu problem untuk dikatakan (bebas). Namun dalam kasus pertanian dan rumah tangga sejauh ini masyarakat memang tidak terlalu memiliki problem. Apakah itu aman? Jawabnya selagi situasinya keadaan miskin itu merata tentu aman karena tidak ada harta benda yang menarik perhatian pelaku kriminal. Namun harus dikatakan juga bahwa seringkali terjadi pencurian atau penggelapan harta milik orang yang mampu disebabkan oleh adanya kesempatan. Kemiskinan, bagaimanapun mendorong orang untuk pragmatis dan abai akan moralitas.Adapun keamaan dari sisi hewan liar pada sebagian kawasan di pinggir hutan seringkali menimbulkan masalah. Hal tersebut perlu dicarikan model-model pertanian berbasis agroecology dan tidak terlalu sulit dilakuakn.




Keamanan terkait dengan ulah manusia, selagi ekonomi itu diperuntukkan oleh orang miskin sampai tahap merata, tentu problemnya akan teratasi. Beda hal, manakala pertanian dilakukan oleh orang luar desa dan berkembang sementara di sana banyak orang membutuhkan harta, bisa jadi akan muncul terus persoalan pencurian atau penggelapan. Pendekatan keamanan terbaik yang patut diperhatikan adalah terciptanya kemajuan ekonomi bersama setahap demi setahap, dan juga pentingnya langkah-langkah tindakan social seperti usaha saling membantu yang lemah pada bahan pangan, pakaian, perbaikan infrastruktur Mandi, Cuci dan Kakus, dan juga tunjangan pendidikan.-Faiz Manshur.

BACA Kemiskinan Budaya. Apa itu?
BACA Tani Pekarangan

4 tanggapan untuk “Empat Elemen Perbaikan Hidup Petani Desa

  • 18 April 2018 pada 5:22 am
    Permalink

    Masalah pada petani gurem (dan keluarganya) adalah ibarat lingkaran setan yang sulit diurai. Mulai dari persoalan lahan yang sempit, kualitas SDM yang pas2an, hingga sikap pragmatisme memandang kehidupan, membuat mereka sulit untuk keluar dari kemiskinan yang seolah diwariskan turun temurun. Masalah ini tak hanya di Jabar, tapi juga terjadi hampir di seluruh wilayah RI yang mayoritas penduduknya berkultur agraris.
    Mungkin, sekali lagi mungkin, hal ini bisa dibenahi dengan keterlibatan anak2 muda. Tapi untuk membuat mereka tertarik terjun di dunia pertanian, ya juga harus ada insentif bagi masa depan mereka. Insentif tak harus melulu materi dalam jangka pendek. Dukungan moril, keleluasaan mengembangkan inovasi dan kreativitas menyelesaikan masalah yang ada, plus kemudahan akses pada penguasaan teknologi, adalah beberapa hal yang bisa memancing generasi milenial mau terlibat membangun sektor pertanian.
    Kalau tidak, ya kita ibarat jalan di tempat. Anak2 muda malah akan semakin menjauhi dunia pertanian. Ini karena mereka merasa pertanian tidak menjanjikan apa-apa bagi masa depan mereka.

    Balas
  • Pingback: Jalan Kebaikan untuk Petani Kecil – ODESA INDONESIA

  • Pingback: Jalan Kebaikan untuk Keluarga Petani – ODESA INDONESIA

  • Pingback: Menyalurkan CSR: Tepat Sasaran dan Berkelanjutan – Odesa-Indonesia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: