Kemiskinan Budaya: Dikasih Hati Meminta Jantung

OLEH BUDHIANA KARTAWIJAYA. Ketua Pembina Yayasan Odesa Indonesia.

Dalam pendampingan pada kelompok miskin, relawan Odesa Indonesia banyak memiliki pengalaman yang unik. Salahsatunya adalah kisah dua orang miskin yang mengindap “Kemiskinan Budaya”, khususnya mentalitas ingin terus dibantu. Ibarat pepatah, diberi hati meminta jantung. Jalinan hubungan dengan relasi baru pun sekadar untuk mengharap keuntungan personal. Berikut ini tulisan menarik dari wartawan Senior Budhiana Kartawijaya, yang juga Ketua Pembina Yayasan Odesa Indonesia yang mengambil contoh faktual tentang dua keluarga yang mengindap “Kemiskinan Budaya”:

MANG Aam(67) dan Mak Etis (60 ), keduanya bukan nama sebenarnya, tinggal di sebuah rumah reyot di Kampung Warawo (nama disamarkan). Aam punya 10 anak dari dua istri. Dia bercerai dari istri pertamanya.

Hidupnya cukup sulit. Kemiskinan membuat dia berspekulasi untuk berdagang. Pengalaman yang minim dalam dunia dagang membuat dia terjerat utang. Akhirnya dia banyak menghilang untuk menghindari para penagih utang.

Meski begitu, Aam punya nasib mujur kalau urusan rumah. Dia mampu menaungi dua rumah tangganya dengan rumah. Semuanya gara-gara jadi agen Porkas (undian olahraga zaman Orde Baru yang kemudian dilarang karena dianggap judi). Dia memenangkan undian tiga angka, dan hasilnya digunakan untuk membangun rumah.




Begitu juga ketika menikahi Etis, Aam juga beruntung memenangkan Porkas. “Waktu itu tebakan tiga angkanya benar: 437! Langsung uangnya dipakai buat bangun rumah ini,” katanya tertawa.

Rumah itu sudah dia huni selama 27 tahun sehingga kerusakan muncul di tiap sudut. Keadaannya sudah miring sehingga bangunan lapuk itu bisa saja ambruk suatu saat. Aam tak punya penghasilan untuk memperbaiki. Selain Porkas sudah dilarang, dia juga terkena katarak. Penglihatannya sudah kabur, sehingga pria buta huruf ini tak bisa lagi melihat jauh dan tak sanggup bekerja. Sehari-hari dia hanya bisa duduk di teras rumah. Istrinya yang bekerja menjadi buruh tani.

Ketua Divisi Amal Sosial Odesa Didik Harjogi pernah membawa dia bersama bebeberapa orang tua kampung ke Rumah Sakit TNI AU Salamun di Ciumbuleuit Bandung untuk memeriksakan mata. Dokter mengatakan Aam termasuk salah satu yang harus menjalani operasi katarak sebulan ke depan.

Namun sebulan kemudian, tak seorang pun dari empat orang yang harus dioperasi itu hadir di kantor Yayasan untuk berangkat ke RS Salamun meski sudah disebutkan bahwa biayanya gratis. Selidik punya selidik, mereka sangat takut terhadap operasi. Akhirnya sampai kini, kataraknya tidak tertangani.

Dalam keadaan seperti itu, Odesa mendapat bantuan dari Guru Besar Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Nina Lubis dkk untuk membedah rumah Mang Aam. Awal Juni 2017, awal Ramadan, mulailah rumah itu dibongkar. Menjelang Hari Raya Idulfitri, pembangunan itu selesai. Gubuk reyot sudah menjelma menjadi rumah tembok permanen, dengan dua kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Semuanya berlantai keramik.

Tentu saja Aam dan Etis merasa senang. Dia punya rencana ingin menikahkan anak perempuannya. Kesulitan berikutnya muncul. Dari mana biaya menikahkan si bungsu?

Tentu pernikahan memerlukan biaya besar, karena di dalam tradisi perkawinan di Warawo, seberapa sulit hidup, hajatan itu mesti ramai dan si empu pesta harus menyediakan makanan dan hiburan untuk warga sekampung.

“Alhamdulillah rumah sekarang sudah bagus. Saya tidak akan malu menikahkan si bungsu di rumah ini. Tapi bingung biayanya dari mana. Barangkali pak Budhi juga bisa membiayai pernikahan anak kami!,” katanya menyebut nama saya kepada Enton Supriyatna.




CERITA lain tentang bedah rumah juga datang dari Yosim (72 ). Dia tinggal di seberang rumah Aam. Sama juga, ayah empat anak ini tinggal di gubuk sengsara. Usia tua tidak memungkinan dia pergi ke ladang lagi untuk memburuh tani. Anak-anaknya pun tidak mempunyai pekerjaan yang layak.
Awal Juni atas bantuan asosiasi guru besar pimpinan Nina Lubis, rumah Yosim pun akan dibongkar. Maka diukurlah luas tanah dan bangunannya, dan akan diganti dengan bangunan baru yang luasnya sama. Tentu saja uluran tangan ini disambut dengan suka cita dan air mata haru.

Setelah bangunan lama dibongkar, pembangunan pun dilakukan. Namun setelah struktur bangunan berdiri, Nina Lubis merasa heran karena luas tanah yang akan dibangun ternyata mengecil. Selidik punya selidik, ternyata Yosim sudah menjual sebagian tanahnya kepada orang lain. Artinya Yosim mempunyai cukup uang.

“Artinya dia punya uang. Tapi tak mau sedikitpun mengeluarkan uangnya untuk sekadar membeli kopi buat tukang,” ujar Nina.

Semua biaya pembangunan rumah, termasuk jajan pisang goreng, kopi dan rokok harus ditanggung donatur. Yang lebih membuat Nina kesal lagi adalah, ternyata dari sekian jumlah pekerja, salah satunya adalah anak Yosim. Dan tentu saja harus diupah.

“Lho ini bagaimana? Kita kan sedang membangunkan rumah bapaknya supaya mereka bisa tinggal lebih nyaman. Seharusnya mah si anak itu senang ada yang membantu memperbaiki rumahnya. Ini kok, sudah disumbang tapi minta diupah?” ujar Nina.

Rumah Yosim dan Aam sekarang sudah permanen. Sampai tulisan ini dibuat, rumah kokoh itu sudah delapan bulan menaungi dua keluarga itu. Aktivis Odesa hampir setiap saat melewati rumah itu. Kedua kakek itu selalu tampak di depan rumahnya.

Tapi satu hal yang menarik, kedua orang itu maupun anggota-anggota keluarganya, tidak seperti lazimnya petani yang lain dalam melanjutkan jalinan hubungan dengan relawan Odesa. Keduanya lepas tanpa berurusan walaupun sekadar silaturahmi. Pernah sekali waktu Abah Aam bertemu dengan relawan Odesa, tanpa basa-basi meminta uang untuk keperluan makan.

Ketiadaan lanjutan hubungan ini dirasakan oleh para relawan Odesa sebagai pembeda antara orang miskin yang mengindap masalah mental miskin budaya dengan orang miskin yang tidak mengindap kemiskinan budaya.Sebab ada sekian fakta, banyak keluarga miskin yang dibantu walau sekadar pakaian, uang atau beras tetapi memiliki sikap berterimakasih sehingga dari situ mereka merasa penting bersilaturahmi, sebagai contoh kisah orang miskin lain yaitu Pak Odin dan Pak Damim yang bisa merasa bersyukur dan terus berhubungan baik dengan para relawan Odesa tanpa pernah menunjukkan kekurangannya.[]

BACA Perihal kemiskinan budaya
BACA Strategi Mengatasi Kemiskinan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: