Kardus Bekas dan Asam Urat Nasrun

SIAPA saja yang melintas di Jln. AH Nasution dari arah barat tengah malam, di depan pom bensin sebelum Lapas Sukamiskin, mungkin pernah menjumpai seorang tua yang duduk di bebatuan tepi jalan. Kadang dia menunduk terkantuk-kantuk.

Di bawah temaram cahaya lampu, wajahnya terlihat kelelahan. Matanya sayu. Tapi tetap tersenyum jika ada yang menyapanya. Sementara sebuah gerobak berisi kardus bekas terparkir di dekatnya.




“Saya harus banyak berhenti untuk istirahat. Kaki saya sudah tidak kuat kalau harus berjalan lama. Pegel dan sakit kalau dipaksakan. Tidak seperti dulu lagi,” kata Nasrun (65), lelaki tua itu, sambil sesekali memukul-mukul kedua betisnya.

Nasrun adalah tukang “kindeuw”, pemulung barang bekas terutama kardus. Pekerjaan tersebut telah dijalani warga Pasirimpun Barat RT 2/RW 9 Kel. Karangpamulang, Kec. Mandalajati, Kota Bandung itu sejak sepuluh tahun lalu.

Dia tahu, angin malam tidak baik untuk kesehatan orang seusianya. Namun itulah cara paling mungkin untuk menyiasati kondisi tubuhnya saat ini. Setelah tekanan darah dan asam uratnya meninggi, Nasrun seringkali kepayahan kalau harus berjalan di bawah terik matahari.

“Siang hari itu rasanya panas sekali. Kepala saya sering pusing. Maka saya pilih medorong roda untuk mencari kardus bekas pada malam hari. Udaranya lebih enak. Pada waktu-waktu tertentu memang rasanya dingin sekali,” tuturnya. Meski tubuhnya dibalut baju jaket, tapi Nasrun tidak jarang masuk angin.

Ketika kondisi tubuhnya masih sehat, Nasrun cekatan keluar masuk perkampungan dan mendatangi sejumlah warung dari pagi hingga sore untuk mencari kardus bekas. Hasil kelilingnya itu dijual kepada pemilik roda.

Dalam sepekan dia bisa mengumpulkan sedikitnya dua kwintal kardus bekas dengan imbalan Rp 500 ribu. Sekarang, dalam dua pekan Nasrum hanya mampu meraup Rp 300 ribu. Jumlah pendapatannya merosot tajam. Tapi disyukurinya dan mencoba supaya cukup untuk hidup bersama istri tercintanya.

Khatam Quran

Jauh sebelum menjadi pengumpul kardus bekas, Nasrun bekerja di sejumlah pabrik. Ketika pabrik tempatnya bekerja bangkrut, Nasrun banting setir menjadi pedagang asongan rokok. Malang melintang di Terminal Cicaheum dan di jalanan.

Kemudian ada yang menawarinya untuk menjadi pengumpul kardus bekas, yang ternyata hasilnya cukup lumayan. Namun setelah asam urat dan tekanan darah tinggi menyerangnya, langkahnya menjadi terbatas. Daya jelajahnya juga menjadi sempit.

Nasrun harus tahu diri dengan keadaan kesehatan dan usianya tidak muda lagi. “Saya sebetulnya ingin istirahat saja. Tapi saya juga harus makan. Saya tidak ingin bergantung pada orang lain atau mengemis,” kata ayah tiga anak dan kakek dari lima cucu ini.

Namun selalu ada hikmah dari segala kejadian. Dengan jadwal kelilingnya yang berubah jadi malam hari dan tidak setiap hari, Nasrun jadi punya waktu cukup luang. Dia memanfaatkannya untuk membaca Quran sesering mungkin.

“Biasanya saya membaca Quran setelah dzuhur hingga asar. Disambung lagi hingga menjelang magrib. Jika jadwalnya untuk keliling, saya keluar rumah setelah isya hingga tengah malam. Dalam sebulan saya bisa khatam paling sedikit dua kali,” kata Nasrun.

Selama perbincangan, beberapa kali pengguna jalan menghampirinya. Ada pengendara sepeda motor yang memberinya uang. Ada pula pengendara mobil yang menyerahkan bingkisan makanan. Nasrun menerimanya dengan ucapan “hatur nuhun” disertai senyum dan anggukan.

Seharusnya udara dingin malam dan deru kendaraan tidak menemani orang lanjut usia ini di jalanan. Nasrun semestinya sudah tertidur nyenyak lebih awal dan bangun pagi dengan segar. Menikmati istirahat usia tua di rumahnya.-Enton Supriyatna Sind.



Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: