Literasi untuk Orang Miskin

Oleh AHMAD BAIQUNI. CEO Penerbit Mizan Bandung

Terlahir di keluarga miskin itu pasti bukan pilihan bagi seorang anak. Tapi ia segera merasakan dampak berlapis-lapis dari kemiskinannya. Salah satunya adalah keterbatasan atau malah ketertutupan akses pada informasi, khususnya buku.

Bagi orang kaya, buku lebih soal pilihan atau preferensi berbelanja, yang ditentukan oleh wawasan, minat, selera, urgensi. Bagi orang miskin, persoalan itu ditambah lagi: memang tidak uang untuk beli buku. Benar, baca buku tidak harus beli, datanglah ke perpustakaan publik. Datang ke sana jelas bukan pilihan bagi anak miskin. Apalagi soal keterjangkauannya, baik dari segi jarak maupun eksistensinya.

Jamak diketahui, pengelolaan perpustakaan publik tidak menjadi perhatian penting pemerintah. Jadi, memang perlu diciptakan taman-taman bacaan yang memungkinkan anak-anak miskin punya akses ke buku-buku. Masyarakat sipillah, dengan menggandeng koalisi bersama-sama dan membentuk jejaring berskala luas, yang kudu banyak ambil inisiatif, tidak perlu menunggu program pemerintah semacam perpustakaan masuk desa.




Supaya ide ini berjalan, harus ada penggerak yang memikirkan kontinuitas dan pertumbuhan taman bacaan. Di sinilah organisasi diperlukan. Garapannya tidak sesederhana menyediakan buku dan tempat tapi juga bagaimana memberdayakan anak-anak miskin melalui buku. Berdaya karena mereka tahu siapa mereka, apa yang mereka miliki, apa yang bisa mereka kerjakan, dan bagaimana mereka bisa berpikir tentang lingkungan dan masyarakatnya.

Dalam praktik, proses itu perlu pendampingan. Kita mengajak mereka berbagi hasil bacaan, menulis, membuat catatan harian, membuat laporan lapangan, mencatat data (menggunakan instrumen pengukur), mengukur perubahan, mengamati fenomena alam dan sosial, menulis cerita tentang kehidupan mereka, berimajinasi, bermain matematika realis, mengenal dan menggunakan alat-alat teknologi, berbicara dan berekspresi lewat drama dan storytelling, dan lain-lain.[]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: