CEO Penerbit Mizan Mengajar Anak-Anak Desa

Minggu, 10 November 2017, Ahmad Baiquni, Chief Executive Officer (CEO) Penerbit Mizan Bandung menjumpai anak-anak peserta kursus Bahasa Inggris di Pasir Impun Cimenyan Kabupaten bandung.




Sebelumnya ia mengaku penasaran dengan kegiatan Odesa Indonesia yang sering mempublikasikan persoalan keterbelakangan hidup warga desa di jarak yang tak jauh dari perkotaan. Ia juga tertarik dengan urusan tanaman, terutama Kelor (Moringa Oleifera) yang digagas Odesa Indonesia sebagai tanaman penting untuk pangan dan kesehatan.

Siang itu Baiquni meluncur ke Cimenyan dari rumahnya di kawasan Ujung Berung Bandung. Jarak tak begitu jauh, namun terlambat karena dia tersesat ke kampung-kampung. Namun itu sebuah hal yang baik karena tersesat ke kampung-kampung Cimenyan yang jalannya rusak parah membuat dirinya hilang rasa penasaran terkait dengan apa yang sering diberitakan Odesa Indonesia.

“Waduh itu jalan rusak parah. Ngeri juga ya situasinya, padahal tidak jauh dari Kota Bandung ya,” katanya.




Di Pasir Impun Baiquni menyapa anak-anak desa yang sedang belajar Bahasa Inggris. Siang itu ia memberikan pengetahuan dasar tentang dunia penerbitan. Karena yang dihadapi anak-anak desa, ia berbicara dengan cara yang sederhana dan menunjukkan buku yang dibaca anak-anak. Baiquni menjelaskan proses bagaimana sebuah buku bisa terbit dan bagaimana menjadi penulis. Tak lupa, ia pun memberikan tips-tips sederhana menuangkan gagasan menulis kepada anak.

Minggu sebelumnya, rekan sekantornya di Penerbit Mizan, Yuliani Liputo sudah membagikan bantuan buku-buku bacaan fiksi dan buku panduan belajar yang itu sangat menarik bagi anak-anak desa. Ada 28 anak yang belajar di pasir Impun bersama yayasan Odesa Indonesia, dan lebih 80 siswa yang belajar di kampung Cisanggarung Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Literasi memungkinkan anak-anak desa terbelakang ini mendapatkan pemikiran yang lebih baik. Perubahan dari minggu ke minggu terus terlihat. Mereka yang kurang mendapatkan nilai pendidikan bermutu dari masing-masing sekolah kini mendapatkan ruang bersama Yayasan Odesa Indonesia melalui sistem pembelajaran yang inklusif, partisipatif dan menyenangkan.

Baiquni adalah sekian dari intelektual di Kota Bandung yang tertarik urusan pendidikan dan memiliki kepedulian terhadap masalah sosial. Ia banyak bertanya kepada Faiz Manshur dan Budhiana Kartawijaya terkait masalah-masalah sosial-ekonomi di perdesaan.




Ini adalah sebuah proses yang baik untuk karena desa membutuhkan kepedulian para intelektual; agar proses memanusiakan manusia lebih cepat berjalan. Menjelang sore hari, setelah menyaksikan kegiatan literasi di Kantor Odesa Indonesia, Baiquni membawa bibit Kelor untuk ditanam di pekarangan rumahnya. []

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: