Perubahan Cepat, Relasi Sosial Mesti diperbaiki

Teknologi informasi telah banyak menggeser model relasi sosial masyarakat. Dari yang dekat menjadi jauh, dari yang jauh menjadi dekat. Dari yang sulit menjadi mudah, namun ada yang mudah menjadi sulit. Perubahan cepat terutama yang dialami warga yang hidup di perkotaan ini menurut Kettua Yayasan Odesa Indonesia Bandung, Faiz Manshur bisa berguna memperbaiki keadaan, namun bisa pula memperumit keadaan.

“Yang dekat menjadi jauh di antaranya ialah kita kehilangan banyak pemaknaan hidup sosial antar kemanusiaan yang sewaktu model interaksi langsung sangat humanis kini mulai pudar. Orang-orang terkonsentrasi pada dunia meta, layar monitor atau ponsel, yang bisa membuat acuh pada hubungan sosial sekitarnya. Padahal persoalan hidup manusia tetap pada urusan teman nyata hari-hari, keluarga, tetangga, kelompok kecil lingkungan dan yang tak kalah penting adalah tanggungjawab sosial,” kata faiz Manshur, Jumat, 3 November 2017.

Sementara keadaan yang jauh menjadi dekat yang dimaksud Faiz adalah konektivitas di mana saat ini banyak relasi sosial terbarukan lintas area dan lintas komunitas sehingga memungkinkan hubungan sosial berjalan dengan cara pandang baru. Adapun yang sulit menjadi mudah dalam relasi sosial dicontohkan oleh Faiz Manshur misalnya, kita semakin sulit memperbaiki keadaan sekitarnya karena pikiran dan waktu terkonsentrasi pada dunia jauh yang tak konkret menjawab problem lokal terdekat. Seseorang bisa bicara tentang yang makro seperti problem politik nasional, namun tidak mampu menjawab masalah kecil sampah di selokan RTnya.




“Hal-hal itu merupakan realitas. Kita tidak perlu mengeluh karena keadaan zaman tidak bisa dibendung. Yang justru harus dilakukan adalah membangun potensi baru untuk partisipasi. Misalnya nilai lama solidaritas sosial yang pudar dalam sebuah kampung harus dikuatkan melalui relasi internet. Membangun komunitas kegiatan secara bersama-sama untuk perubahan sekup kecil,” papar Faiz.

Konkret bertindak
Gerakan komunitas melibatkan lintas jaringan namun memiliki fokus pada penyelesaian masalah lokal yang terabaikan namun sangat menjadi problem besar negara Indonesia. Masalah-masalah itu menurut Faiz Manshur di antaranya adalah seperti urusan sampah level RT/RW/Kampung, mendampingi anak putus sekolah di kampung, mendampingi petani untuk pengolahan pasca panen dan marketing online, amal sosial untuk keluarga miskin atau orang lanjut usia, membangun sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK) atau bahkan membangun Rumah Tidak Layak Huni merupakan tindakan-tindakan kecil yang penting.

“Kita tahu problem besar bangsa Indonesia berkutat pada masalah itu. Kemanusiaan kita diuji untuk empati yang besar mengurusi keterbelakangan. Jika kesenjangan seperti ini tidak dijawab oleh relasi sosial yang baru, mustahil bangsa ini keluar dari problem secara cepat karena negara hanya tempatnya permainan politik para politisi yang sibuk urusan pertarungan politik pilkada dan sebatas perbaikan birokrasi sementara keadaan rakyat yang mengalami marjinalisasi tidak mendapatkan perhatian secara konkret,” jelasnya.

Model kegiatan sosial yang dikembangkan Odesa Indonesia di pinggiran Kota Bandung menurut Faiz merupakan respon untuk mengambil sisi penting dari relasi yang ada di perkotaan terhubung pada masalah problem desa. Dengan model-model pendampingan langsung ke perdesaan para relawan Odesa Indonesia bisa memaknai tentang relasi sosial yang baru.

“Memperbaiki keadaan tidak bisa sekadar memberi perhatian pada problem yang datang dari berita politik, lalu saling melempar ungkapan, melainkan harus berindak konkret di lapangan kemudian menghubungkan dengan jejaring melalui internet. Relasi baru, model baru, dan menghasilkan tindakan baru ini sangat baik untuk piskologi sosial,” katanya. Ina/odesa.id

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: