Kembali ke Petak Pekarangan Rumah Kita


Oleh BUDHIANA KARTAWIJAYA *)

“Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, tapi tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir manusia yang serakah.” -Mahatma Gandhi.

Harian Kompas Minggu (5/11/2017) menurunkan berita Global Nutrition Report. Hasil survey terhadap 140 negara menyebutkan, sekira 2 miliar dari 7 miliar penduduk bumi mengalami obesitas. Sementara di bagian lain, 155 juta anak tumbuh kerdil karena kurang gizi, dan 52 juta anak kurus kering. Laporan itu juga menyebutkan masih banyak orang terkena anemia, terbanyak adalah anak dan perempuan.




Obesitas bukan hanya gejala biologis. Dia juga adalah produk kebijakan pangan dunia, khususnya kebijakan teknologi pangan. Teknologi menyebabkan surplus pangan di sebuah negeri. Surplus pangan menyebabkan tingkat crave-ity pangan meningkat. Crave-ity pangan artinya kira-kira keinginan membuat pangan dalam berbagai kreasi. Orang misalnya tak hanya mengonsumsi gula dalam bentuk gula, tapi dalam bentuk es krim. Orang tak lagi makan daging dalam bentuk daging, tapi steak atau sosis.

Adalah Amerika yang mengawali cerita obesitas. Lahan datar yang super luas dan teknologi yang hebat menyebabkan negeri ini jadi sumber pangan dunia. Kendati jumlah petani menurun, produktivitas tani mereka meningkat. Ya karena teknologi dan ilmu pengetahuan yang mendasari sebelumnya tentunya.

Tahun 1960, seorang petani AS memberi makan 25.8 penduduk dunia. Tahun ini, seorang petani Paman Sam memberi makan 155 orang dunia. Surplus pertanian menyebabkan makanan-makanan festival berubah menjadi makanan harian. Dulu steak, wine, bir, es krim dan lain-lain adalah makanan pesta. Tapi sekarang jadi makanan sehari-hari. Maka obesitas adalah konsekuensinya.

Surplus pangan juga menyebabkan orang bereksperimen mengolah makanan. Daging diolah jadi steak atau sosis. Susu diolah jadi yoghurt dan macam-macam kue. Gandum jadi bir dan lain-lain.

Televisi BBC Earth pernah menayangkan feature tentang food study. Study menunjukkan bila manusia mengonsumsi gula pasir murni, maka alarm tubuh bisa mengingatkan bahwa : it is enough. Maka otak pun memerintahkan kita untuk berhenti makan gula. Begitu juga dengan coklat, susu, dan lain-lain. Tapi bila gula, susu dan coklat diolah jadi es krim, maka tubuh jadi bingung. Alarm penyetop akan telat menghentikan nafsu. Mungkin itu sebabnya kita asyik melumat es krim. Itu pula yang menyebabkan obesitas. Sialnya makin modern, keinginan mengonsumsi makanan olahan dan makanan kreasi (crave-ity) makin tinggi.

Crave-ity terkait dengan gengsi dan status sosial. Crave-ity juga dibentuk oleh industri-industri pangan dunia: Kellog, Unilever, Danone, Coca Cola, Nestle, Mc Donald dan lain-lain.


Itu mengapa obesitas menjadi gejala di perkotaan dan ciri kelas menengah ke atas. Bagi orang desa, steak adalah makanan festival, tapi bagi orang kota adalah makanan sehari-hari. Di perkotaan orang-orang mengalami problem kegemukan karena kemakmuran, di perdesaan orang-orang mengalami problem kekurusan karena kemelaratan.

Tapi kesadaran masyarakat Amerika mulai meningkat. Kecurigaan terhadap kesehatan makanan industri makin tinggi. Mana mungkin daging, buah dan sayur yang dibeli dari jauh masih tetap segar? Adakah zat pengawet di dalamnya? Adakah makanan itu sekadar essence? Mengapa beras begitu putih?

Maka berkembang konsep locavore: membangun sistem pangan lokal. Mereka membeli susu dari peternakan lokal, sayur dari perkebunan lokal. Semuanya terpantau, karena jarak yang dekat. Gerakan kebun sepetak (square foot gardening) pun ramai. Kita menyebutnya urban farming. Masyarakat perkotaan Indonesia pun mulai sadar. Mereka mulai mencari sayur organik non pestisida.

Tapi bagaimana masyarakat desa?
Lihatlah ke selokan-selokan atau tempat-tempat sampah. Biasanya ada sampah bungkus kopi sachet (yang tentu saja bukan kopi beneran), sampah bungkus makanan anak-anak, sampah bungkus mie instan dan lain-lain. Last but not least…



Pendidikan kesadaran pangan yang berpijak pada bumi sendiri, harus digelorakan. Luas tanam sekian meter harus diurus karena bertani tidak perlu harus jadi profesi. Selalu ada waktu untuk bekerja dalam waktu terbatas karena bertani pekarangan dilakukan dari dan di rumah. Internet dengan kelimpahan ilmu pengetahuan akan banyak memandu kita untuk berkreasi dalam mengurus beragam jenis tanaman.

Tanam tumbuhan pangan kendati halaman cuma sepetak. Tanam tomat, cabe, kelor, papaya, delima, bawang, caisim, bunga matahari, jahe, kentang, wortel, atau apa pun. Tanam biji kendati besok hari kiamat.!

*) Penulis adalah Ketua Pembina Yayasan Odesa Indonesia. Bekerja untuk Penelitian dan Pengembangan Harian Pikiran Rakyat Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: