Tahun 2017 ini, Odesa Siapkan 100.000 Bibit untuk Kawasan Bandung Utara

Mulanya petani sayur dianggap sulit beralih ke tanaman kopi. Faktanya, lebih banyak yang mau daripada yang menolak. Perubahan pertanian bisa dilakukan dengan prinsip “membumi dalam kebersamaan”.

CIMENYAN . Pertengahan tahun 2016 lalu ketika Odesa Indonesia menghadapi pertanyaan itu. Petani sayur tidak mau menanam kopi karena alasan empat alasan; 1) Mengeluh karena belum bisa bercocok tanam. 2) Panen kopi dianggap lama karena menunggu selama masa tiga tahun, 3) Lahan yang digarap milik orang kota, petani kesulitan membicarakan hal ini kepada pemiliknya, 4) Takut soal penjualan.




Empat hal ini terurai satu persatu tanpa halangan yang berarti. Mapping dilakukan, pendekatan menyentuh akar rumput sehingga kami benar-benar mengenal celah saat melakukan tindakan. Masalah perubahan pertanian bukan hal yang sulit bagi petani karena dasarnya mereka ingin perbaikan hidup. Petani ingin berubah, hanya saja membutuhkan pendamping yang serius.

Sejalan dengan semangat “membumi dalam kebersamaan,” yang kami jalankan, keempat masalah itu selesai dalam hitungan hari. Problem yang sifatnya ungkapan mulut tidak perlu dijawab dengan mulut. Odesa punya kiat khusus menggaet hati petani untuk melakukan pembaharuan pemikiran, tindakan dan bahkan pola hidup dalam pertanian.

Langkah pertama, jangan percaya omongan satu dua orang baik yang menolak maupun yang langsung siap bercocok tanam kopi. Mereka yang menolak dengan mengatakan, “kami (petani)” seakan-akan semua petani. Padahal kenyataannya hanya dirinya saja yang tidak minat. Faktanya ketika satu orang diajak bertemu untuk pelatihan kopi, yang hadir mencapai 7 orang. Dari 7 orang tidak ada satupun yang menolak. Bahkan pada pertemuan selanjutnya, jumlah petani yang mendaftar menanam kopi berlipat-lipat.

Kedua, terkait dengan empat problem di atas, bukan problemnya petani secara keseluruhan. Banyak petani Cimenyan yang sudah lama menunggu datangnya bibit kopi, bahkan sering membeli dalam jumlah kecil. Fakta yang kami temukan ratusan petani di Cimenyan bertahun-tahun mereka menantikan bibit kopi. Ada sebagian dari mereka yang mencari bibit dan siap membeli, tetapi kesulitan mendapatkan bibit. Ada yang bilang trauma dengan bibit kopi ateng (Atjeh Tengah) yang sebagian besar mengalami kegagalan. Ada pula yang sangat ingin menanam kopi namun tidak punya modal belanja bibit. Sebab (misalnya) untuk menanam 1.000 bibit, mereka harus belanja Rp 3.000.000. Itu jelas memberatkan karena belum termasuk lain-lain.

Ketiga, sebagian dari petani yang belum menanam kopi sebenarnya mudah belajar dari petani di kampung lain, terutama petani kopi di hutan Arcamanik Kab.Bandung. Sebagian besar mereka mengenal petani lain yang sudah mahir bertanam dan memanen kopi. Dari sana mereka sudah mendengar informasi keberhasilan bertanam kopi. Kemudian ditambah dengan pasokan ilmu pengetahuan dari Odesa. Di beberapa tempat petani yang akan membudidayakan tanaman kopi, Odesa Indonesia menggelar pelatihan budidaya dan pasca panen kopi: berdiskusi, menonton video, termasuk sistem penghijauan tanaman tinggi dan tanaman agribisnis lain menuju ke arah tumpang sari.

Mengubah pola tanam petani bukan hal sulit. Rumusnya mudah. Pahami kehidupan petani secara mendalam. Pahami arah pemikirannya. Cari celah basis potensial yang bisa membuat mereka bergerak. Ada yang tidak bisa bertanam kopi itu bukan masalah karena masih lebih banyak yang bisa, masih banyak yang mau dan banyak yang mampu.

Itulah mengapa hanya dalam hitungan minggu, bibit-bibit kopi Odesa tersalurkan secara tepat kepada petani yang membutuhkan. Banyak petani di kawasan Cimenyan yang jaraknya sekitar 4-5 kilometer dari Hutan Arcamanik sekarang bercocok tanam kopi Arabica dari Odesa-Indonesia. Ratusan petani membutuhkan bibit kopi sampai-sampai Odesa Indonesia kelimpungan melayani permintaan, bahkan sebagian dari petani berkenan membeli.




Sekarang Odesa-Indonesia membibit ulang kopi. Basuki Suhardiman, Koordinator Pembibitan Tanaman Kopi pada Hari ini (Senin, 24 April 2017) memastikan benih kopi yang akan dijadikan bibit Kopi Arabica mencapai angka 100.000. Akhir tahun 2017 akan ditambah volumenya lebih besar.

Dan gerakan produksi pertanian Odesa tidak lagi sebatas budidaya kopi. Ada tanaman Kumis Kucing, Kelor, Daun Afrika, dan tanaman obat/herbal jenis lain. Petani enggan menanam herbal? Itu asumsi. Tidak ada yang sulit selagi kita memahami dan mendampingi mereka.-[Faiz Manshur]

Odesa Indonesia membuka seluas-luasnya keterlibatan masyarakat lain khususnya di perkotaan agar memperkuat ekonomi kaum tani yang tertinggal di Kawasan Bandung Utara, terutama Cimenyan bisa berdaya melalui Tiga Bidang Kegiatan 1) Ekonomi 2) Pendidikan 3) Kesehatan.

Mari bergerak bersama. Kami ada di
Twitter

Fanspage

Youtube

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: