Kisah Pilu Penghuni Gubuk Reyot 2

Lela Yumilah Ingin Jadi Menteri Keuangan
SIANG itu hari agak mendung. Gerimis kecil sudah turun di antara pepohonan cengkeh. Wajah Nani Rahmawati (28) menyiratkan kecemasan. “Kalau hujan turun, suka repot. Sekeluarga tidak bisa tidur. Air hujan masuk ke dalam rumah. Kasihan anak-anak badannya basah, kedinginan. Apalagi yang ini nih, masih bayi,” ujarnya sambil mendekap anak bungsu berusia setahun, Tania Azzahra, Senin, 13 Pebruari 2017.

Rumah yang dimaksud Nani adalah sebuah gubuk berukuran 5 x 2,5 meter persegi. Bagian atapnya ditutup terpal warna biru, lantainya tanah semata. Seluruh dindingnya adalah barang-barang bekas pemberian orang. Termasuk pintu fiber dari bekas pintu kamar mandi. Beberapa kursi busa yang sudah lusuh berada di dalamnya. Sementara yang ukurannya lebih panjang, teronggok di luar sebab tidak ada lagi tempat untuk menyimpannya.

Di ruangan pengap itulah, pasangan Nani dan Aep Sapari (47) beserta ketiga anak mereka tinggal. Setiap hari harus terbiasa dengan bau tidak sedap dari tempat pembuangan sampah, yang hanya berjarak beberapa meter dari gubuknya. Tidak ada pilihan lahin. “Segini juga sudah untung, ada orang yang berbaik hati membolehkan kami menempati lahan ini,” tutur Nani saat ditemui di Kampung Barukai, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu.

Keberadaan gubuk tersebut memang agak tersembunyi. Posisinya berada di lahan yang lebih rendah dari jalan desa, sebelah kiri dari arah Sukamiskin. Selintas orang akan mengiranya sebagai bagian dari aktivitas pembuangan sampah. Apalagi Kampung Barukai bukanlah kawasan pemukiman penduduk, kiri-kanan jalan dipenuhi berbagai jenis pepohonan. Pemukiman penduduk terdekat berada sekitar 1 km dari situ, Cikawari di sebelah atas atau Sentakdulang di sebelah bawah.

Ke Cikawarilah setiap hari Nani menapaki jalan menanjak, sambil membawa empat jerigen kosong kapasitas 10-15 liter. Kemudian diisi di bak penampungan air bersih milik warga. Aep Sapari akan membawa jerigen-jerigen itu sore harinya sepulang kerja, dalam dua kali pengangkutan menggunakan kayu pikulan (rancatan). Hanya dengan cara itu mereka bisa memenuhi kebutuhan air bersih.

Jika malam tiba, lampu cempor dari botol kecil bersumbu kain menjadi satu-satunya alat penerangan. Ada dua lampu cempor di gubuk itu yang penggunaannya benar-benar diperketat. “Kalau lagi ada minyak tanah, keduanya dinyalakan. Kalau sedang sulit minyak tanah, ya satu saja atau gelap sama sekali,” ungkap Nani lagi.


Merantau ke Karawang

Semula pasangan ini hidup di Kampung Cikawari. Selepas orangtua Nani meninggal dunia dan rumah tempat mereka tinggal dijual sebagai bagian dari bagi waris, akhirnya keduanya memutuskan untuk merantau ke Karawang pada 2006. Di kota tersebut, Aep yang tidak memiliki keahian lain selain buruh bagunan, mencoba peruntungan untuk menjalani hidup. Jika sedang sepi pekerjaan, mereka kembali ke Bandung. Kemudian berangkat lagi jika ada panggilan. Cirebon juga sempat menjadi ladang perjuangan hidup mereka.

Namun rupanya nasib baik belum juga berpihak pada mereka. Akhirnya Aep dan Nani kembali ke Bandung, mengontrak rumah sambil usaha serabutan. Hingga akhirnya mereka benar-benar tidak mampu lagi membayar kontrakan yang bertarif Rp 300 ribu per bulan di Sentakdulang. Tiga bulan mereka menunggak dan terpaksa harus keluar dari tempat itu, tanpa kejelasan tempat bernaung.

Dalam kebingungan itulah mereka mendatangi pemilik tempat pembuangan sampah di Kampung Barukai. Memang masih tersedia lahan cukup luas di tempat tersebut. Ternyata pemilik lahan tidak keberatan, setelah lebih dulu dibuatkan perjanjian. Lokasi yang paling mungkin ditempati berada di dekat pembuangan limbah itu.

Sejak November 2016 lalu keluarga Aep bermukim di sana, setelah sebelumnya mendapatkan sumbangan barang-barang bekas yang bisa digunakan untuk mendirikan gubuk. Aeplah yang membangunnya sendirian. Mulai dari proses meratakan tanah hingga menjadi tempat yang bisa ditinggali.

Menteri keuangan
Ketika berbincang dengan Nani, Aep sedang bekerja memperbaiki rumah di tempat yang cukup jauh di wilayah Kota Bandung. Untuk mencapai tempat kerjanya itu, dia harus berjalan kaki lumayan jauh. Sebagai gambaran, dari gubuknya ke Jln. AH Nasution saja berjarak sekitar 7 kilometer. Hal yang sama dilakukannya jika pulang kerja. “Ya mau bagaimana lagi. Kalau naik ojek kan tidak punya ongkos. Mending untuk beli beras, ketimbang dipake ongos ojek,” kata Nani, yang mengaku sering kesulitan mendapatkan beras untuk makan.

Meskipun hidup dalam kondisi demikian sulit, Aep dan Nani tidak mau anak-anaknya menjadi korban sehingga terbengkalai pendidikannya. Sekolah, kata Nani, sangat penting bagi masa depan anak-anaknya. Setidaknya tingkat sekolah dasar harus diselesaikan. Lela Yumilah (10) beberapa kali harus pindah sekolah mengikuti kepindahan orangtuanya.

Gadis kecil yang kini duduk dibangku kelas 5 SDN Mekarjaya, Sentakdulang, tersebut tidak merasa rendah diri dengan kondisi ekonominya. Ada optimisme ketika ditanya tentang cita-citanya.
“Saya ingin menjadi menteri keuangan,” ujarnya mantap, sambil memegang buku tulis yang berisi pekerjaan rumah pelajaran matematika. Sementara adiknya, Dede Furkon (7) yang duduk dibangku kelas 2 ingin jadi polisi.

Nani mengaku terharu, melihat anak-anaknya belajar malam hari hanya diterangi lampu cempor. Namun melihat semangat mereka, mendorongnya untuk memenuhi apa saja kebutuhan sekolahnya. Walaupun dia harus pontang-panting menjual sejumlah ayam peliharaannya hanya untuk mencapai jumlah Rp 50.000 yang diperlukan Lela.

“Saya hanya ingin agar anak-anak tidak seperti orangtuanya, sekolah tidak tamat. Makanya saya pelihara ayam, yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak,” ucapnya sambil menunjuk kandang kecil berisi beberapa ekor ayam kampung di samping gubuk.-Enton Supriyatna Sind. (Sumber Koran Galamedia, 17 Pebruari 2017) ***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: