MCK Huek yang Bukan Hoax di Cimenyan Bandung

Selain persoalan Hoax, Indonesia masih memiliki persoalan huek. Ini perkara yang tidak sepele untuk zaman sekarang. Di kawasan perkotaan yang kumuh masih banyak sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) yang jauh dari standar kelayakan. Di desa-desa juga demikian.




Tak jauh dari Metropolitan Kota Bandung, di kawasan kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung Jawa Barat, banyak warga desa yang rumahnya tidak memiliki sarana MCK secara layak. Kalaupun punya, sebagian masih berpotensi menimbulkan huek, alias muntah. Dan yang lebih penting untuk mendapat perhatian adalah, dampak dari sarana MCK yang buruk itu merupakan sumber penyakit.

Mari Kita Berbagi untuk Pembanguan Sarana MCK Agar Mereka Sehat

Lembaga The United Nations Children’s Fund (Unicef) (2012) misalnya, menyebutkan bahwa sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk serta air minum yang tidak aman berkontribusi terhadap 88 persen kematian anak akibat diare di seluruh dunia. Bahkan menurut Unicef, anak-anak yang bertahan hidup, seringnya menderita diare berkontribusi terhadap masalah gizi, sehingga menghalangi anak-anak untuk dapat mencapai potensi maksimal mereka. Kondisi ini selanjutnya menimbulkan implikasi serius terhadap kualitas sumber daya manusia dan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan datang. Di Indonesia, kematian anak usia 1 bulan hingga satu tahun disebabkan oleh diare mencapai 31 persen, dan anak usia 1 tahun hingga 2 tahun mencapai 25%.

Beberapa kampung yang sering dikunjungi relawan Odesa-Indonesia fakta-fakta MCK seperti itu masih banyak sekali ditemukan. Di Pondok Buahbatu, ujung utara perbatasan hutan Arcamanik (Berjarak 8 Km dari Lapas Sukamiskin Kota Bandung) dari 60 rumah terdapat 32 rumah dengan MCK yang sangat tidak layak untuk zaman sekarang ini. Di kampung Cikored terdapat beberapa MCK yang begitu jorok.

Di kampung sebelahnya, Cadas Gantung (yang lokasinya hanya berjarak 4 Km dari Jalan Nasional A.H Nasution) kebanyakan penduduk tidak memiliki MCK dan masih mengandalkan aliran sungai kecil. Situasi kumuh antara kandang, kolam dan rumah tangga begitu mencolok. Situasi seperti ini memang tidak begitu mencolok di depan mata jika kita hanya melihat perkampungan dari jalan. Namun begitu kita masuk ke dalam perkampungan, barulah kondisi MCK huek itu kita temukan.

Sanitasi yang buruk seperti inilah yang menjadi problem yang tuntas di kawasan Kecamatan Cimenyan, dan bisa jadi meluas di perdesaan se Kabupaten Bandung dan Jawa Barat. Pemerintah provinsi Jawa Barat sendiri memiliki problem besar terhadap hal ini tetapi dari tahun ke tahun progress penyelesaiannya tidak begitu menggembirakan.




Tanggal 25 Maret 2015 lalu, situs beritasatu.com menulis, “Belum Miliki MCK, Warga Buang 100 Ton Tinja ke Sungai Citarum.” Setahun kemudian, Kamis, 14 April 2016, Harian tribunews .com menulis berita tentang Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang meminta agar Pemerintahan Jawa Barat mengerem proyek mercusuar Rp 20 triliun pada 2015 untuk dialihkan membangun proyek mandi cuci kakus. Hal ini dikarenakan separoh dari penduduk di Jawa Barat belum memiliki sarana MCK.

MCK bukan perkara sederhana. Ia menyangkut budaya; terdapat persoalan kehidupan serius dari situasi MCK. Buruknya MCK dari sisi ekonomi merupakam simbol kerapuhan pendapatan. Daya beli yang lemah menunjukkan perhatian pemilik rumah baru sebatas mampu memperhatikan sisi dapur. Dari sisi kesehatan hidup, MCK yang buruk merupakan cermin ketidakmampuan menyadari masalah penyakit.

Dari sisi mentalitas, kumuhnya MCK itu pertanda dari lemahnya kesadaran keluarga untuk hidup dengan pola yang lebih berkualitas. Dari sisi agama juga menunjukkan terdapat kualitas rendah pengetahuan keagamaannya karena biasanya, orang Islam misalnya, sangat memperhatikan kebutuhan bersuci.




Namun di atas segala kelemahan individu/warga tersebut, MCK yang jorok merupakan cerminan kepemimpinan yang jorok, dan salahsatu kejorokan pemimpin lokal seperti kepala Desanya, Camatnya dan Bupatinya yang tidak pernah turun lapangan, atau melihat kenyataan tetapi menganggap hal seperti itu lumrah dan dibiarkan begitu saja.-Faiz Manshur.[]

Satu tanggapan untuk “MCK Huek yang Bukan Hoax di Cimenyan Bandung

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: