fbpx

Bertemu Petani Pak Waya di Merak Dampit

Oleh Ir. Didik Harjogi, M.Eng. Dosen Politeknik Bandung. Pegiat Odesa-Indonesia
Odesa bergiat. Rabu, 7 Desember 2016, kami menyusuri kawasan pertanian sayur di kawasan Bukit Mojo/Puncak Bintang, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Bersama relawan Odesa-Indonesia, Mudris, kami berboncengan memakai motor trail.

Siang yang panas itu kami menyusuri jalanan yang rusak. Di Merak Dampit kami bertemu dengan seorang petani, Pak Waya yang sedang bekerja bersama petani lainnya yang sedang memanen kentangnya. Kami berbincang-bincang tentang seputar sayuran dan kehidupan para petani desa itu. Pak Waya pemilik ladang kentang seluas 1 Ha. Usianya 70 tahun dan sejak usia 15 tahun ia sudah bertani. Rumahnya di Sekerendeuh,kurang lebih 3 Km dari ladang.

Menurut penuturannya, tanah 1 Ha itu hasil warisan dari orang tuanya. Bergantian ditanami kentang atau jenis sayuran lainnya. Panen kentang Pak Waya kali ini menghasilkan 20 ton. Harga jualnya Rp 6.000 per kg yang dibeli oleh pengepul ( sementara kalau dijual di pasar Induk harganya 6.800). Jika dihitung uang, penghasilan kotor panen kali ini adalah Rp 120.000.000. Penghasilan ini harus dikurangi modal untuk bibit, pupuk, upah tenaga kerja. Upah untuk tenaga kerja perempuan Rp 60.000/hari dan Rp 80.000/ hari untuk pekerja pria. “Kalau saya hitung pengeluaran modalnya dalam waktu 4 bulan, saya masih bisa mendapatkan laba lima puluh juta,” katanya.

Dari hasil pertaniannya selama ini, mungkin Pak Waya termasuk petani yang maju dalam berpikir. Paling tidak kemajuan itu membuahkan bukti kepemilikan rumah yang cukup bagus dan mobil pick up untuk sarana transportasi. Ia pun memiliki sapi untuk pupuk sayuran dan kopi yang baru mulai digarap.

Menurutnya, sapi di ibaratkan sebagai investasi jangka pendek di mana saat dirinya mengalami kekurangan modal, sapinya bisa dijual. Sedangkan menanam kopi baginya merupakan investasi jangka panjang. Menanam kopi baru bisa panen 3 tahun, namun selanjutnya setiap tahun akan memanen terus tanpa harus menanam ulang seperti sayuran.

Pak Waya adalah cermin petani yang cukup berhasil. Tetapi di sekitarnya, mayoritas petani desa di kawasan Bandung utara bukanlah seperti Pak Waya. Kebanyakan petani memiliki lahan yang sempit, dan bahkan tidak memiliki tanah garapan sama sekali sehingga mereka berstatus sebagai buruh tani dari tanah-tanah orang kota.

Petani-petani itu adalah pemasok hasil pangan untuk kita semua. Mereka berproduksi tiada kenal lelah dan terus melayani konsumen di kota-kota. Hidup mereka kebanyakan di bawah standar ekonomi. Mereka punya kendala, modal, bibit, pupuk, dan harga jual. Sampai saat ini di kawasan Bandung Utara belum ada terobosan yang tepat untuk mengatasi persoalan keterpurukan hidup petani. Budidaya pertanian masih dengan pola yang lama, sementara situasi ekonomi sudah banyak berubah.[]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: