Penjual Pindang di Hutan Palintang

Panas menyengat siang itu. Di hutan Palintang Kabupaten Bandung, Jumat (18/11/2016), saat saya melintas di atas bukit Palintang, terlihat seseorang berjalan kaki memanggul dagangan. Penasaran karena bapak itu berjalan sendiri di tengah hutan yang begitu jauh untuk ditempuh jalan kaki, saya menyempatan berhenti.

“Bapak jualan apa?” tanya saya.

“Pindang,” Jawabnya.

Saya pun bertanya, dan memesan satu bungkus. Serta merta saya ajak bicara. Namanya Wawan Kurniawaan, umurnya 57 tahun. Punya anak 7 dan bercucu 1. Asalnya dari Samarang Garut. Memilih berjualan di Palintang karena tidak banyak kompetitor.

Ini mengangingatkan saya pada seorang pedagang peyeum yang sering berjalan kaki sekitar 5 km di kawasan Merak Dampit Desa Cimenyan. Penjual peyeum itu bercerita kalau dirinya memilih berjualan di desa-desa perbukitan karena lebih optimis dagangannya laku karena belum ada pesaing. Berbeda kalau dijual di kota.

Pak Wawan juga demikian. Jauh-jauh dari Samarang Garut ia perjuangkan waktu dan tenaganya untuk 2-3 hari menjual pindang dengan jumlah 300 buah. Pindah sejumlah 300 buah itu akan menghasilkan uang Rp 1.000.000. Dalam waktu 2-3 hari itulah ia akan mendapatkan laba bersih setelah dipotong transport dan uang makan antara Rp 400.000 hingga Rp 500.000.

Uang sebesar itu harus diperjuangan dengan berjalan dari kampung Panjalu, tempat terakhir kendaraan ia dapatkan dari alun-alun Ujung Berung Bandung. Selanjutnya ia berjalan kaki menyusuri jalanan aspak menanjak sampai di kampung-kampung bukit Palintang. ak Wawan akan berurusan dengan hujan dan petir setiap musim hujan seperti ini. Ia bisa tidur di masjid-masjid desa yang sepi. Atau terkadang harus menumpang ojeg dengan catatan harus berkurang penghasilannya.

“Rumah penduduk masih jauh bapak. Ayo naik saya bareng saya.”

Pak Wawan pun menerima tawaran saya. Sekitar 10 menit kemudian bapak turun di perkampungan untuk kembali menjual dagangannya.[Faiz Manshur]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: