Menyediakan Bacaan untuk Petani

-Ada tanggungjawab orang kota terhadap petani.Caranya? –

Apa yang dilakukan orang kota saat berhadapan dengan orang desa?




Bisa apa saja. Macam-macam kebaikan bisa dilakukan. Punya target atau tidak sudah biasa kita lakukan. Maka akan lebih baik jika kita memiliki target. Dan yang paling utama adalah edukasi untuk menyingkirkan kemubadziran pembicaraan. Silaturahmi semestinya diarahkan untuk kebaikan melalui “edukasi.”

Sebagian orang desa memang sudah bisa mengakses internet. Cuma perlulah kita membuat sebuah terobosan edukasi pada setiap pertemuan, terutama saat pulang kampung dengan pembicaraan ringan yang berguna. Salahsatunya ialah membicarakan potensi tanaman-tanaman yang bisa dibudidayakan secara terbatas maupun dalam skala besar di kalangan petani.

Edukasi pertanian sebenarnya saat ini sudah begitu luas. Banyak materi pengetahuan yang cocok untuk orang desa. Itu modal eksternal yang dapat kita pasok ke masyarakat petani. Sementara petani sendiri juga sudah punya modal dengan pengalamannya (internal) untuk pelaksanaan praktisnya.

Banyak pengetahuan dari internet. Amat disayangkan kalau hanya fokus urusan politik keagamaan yang hanya mengundang perdebatan dan pada praktiknya hanya mengundang permusuhan. Termasuk bacaan berita politik, gosip artis, atau hal-hal yang tidak nyambung untuk penguatan ekonomi dan kebutuhan paling mendasar masyarakat desa. Kita boleh membaca apa saja, tetapi tindakan kita dalam bacaan mesti mempertimbangkan kadar manfaat.

Jangan sampai waktu kita membaca hanya untuk sekadar mendapatkan informasi kemudian nggosip. Itu tidakan tidak beradab. Orang beradab mesti mahir memilah sisi manfaat dan sisi madharat. Inilah yang kita maksudkan untuk terobosan, yaitu menjadikan bahan-bahan pengetahuan dari internet seperti tulisan, makalah penelitian, video, dll menjadi bagian penting untuk perubahan sosial.

Di Odesa-Indonesia punya tradisi pemikiran dan praktis gerakan dengan cara 1) Para aktivis/relawan mendiskusikan tema-tema pertanian untuk menjawab problem kaum tani di sekitar Kawasan Bandung utara. Bahan yang didiskusikan berasal dari (Bahan baku) persoalan riil kaum tani yang “dibenturkan” dengan wacana-wacana luas (seperti pengalaman daerah/negara lain). Tema diskusi bukan lagi sekadar wacana tanaman tertentu, melainkan juga harus praksis cocok ditanam petani setempat, tersedia bibitnya, jelas arah komoditinya, dan tidak lupa penyiapan teknologi tepat guna-nya. Artinya kita mendiskusikan sesuatu yang cocok untuk petani, bukan cocok untuk para relawan.




2) Memasok pengetahuan melalui diskusi rutin dengan petani. Diskusi Odesa-Indonesia selalu punya target, apa yang dibahas bersama petani itu sebelumnya sudah kita ketahui dan diverifikasi sehingga benar-benar merupakan kebutuhan para petani. Lebih maju lagi, setiap usai diskusi, selalu ada tindakan konkret melangkah dalam kebersamaan untuk tindakan di lapangan.

3) Dalam diskusi itu selalu ditekankan pentingnya pengetahuan literasi, baik literasi dari bahan-bahan material pertanian/tanaman maupun video. Prinsip Odesa-Indonesia menekankan bahwa literasi merupakan “senjata” penting bagi petani. Tanpa senjata literasi, sampai kapanpun petani sulit maju. Itulah mengapa makalah-makalah, atau tulisan tentang pertanian/tanaman selalu dipasok untuk para petani. Kami yakin seyakin-yakinnya, selagi petani tidak buta huruf mereka akan mau membaca. Problem literasi bukan mereka malas membaca, melainkan karena tidak adanya bahan bacaan dan arahan tentang apa yang harus dibaca. Buktinya setiap kami memasok bacaan mereka punya banyak waktu untuk membaca ketimbang orang kota. Mereka bisa serius membaca sekalipun dengan kesulitan dan kelambanan karena belum terbiasa. Tentu dalam urusan kesadaran membaca kita tidak cukup menyebarkan tulisan lalu membiarkan mereka membaca dan mencerna. Apalagi tidak semua tulisan bisa dipahami secara mudah. Pendampingan dengan cara dialektik (kombinasi lisan dan bacaan) harus dilakukan. Itulah yang dinamakan diskursus.

Pengalaman di atas bukan hal yang mewah. Itu perkara sederhana. Tinggal urusan kemauan orang-orang kota yang ingin keluarga atau warga petani di desanya maju. Kita bisa print-out-kan materi-materi pertanian, tentang tanaman kopi, jagung, kedelai dan lain sebagainya. Ada juga yang sangat praktis dan bisa dengan modal murah, yakni berbudidaya tanaman obat. Tanaman kelor, jinten, lidah buaya, kumis kucing, dan lain sebagainya bisa digali dan menjadi wacana para petani di desa dan bisa diterapkan dengan cara bertahap. Ini berbeda dengan proyek penanaman kopi, jagung, wortel atau tanaman lain yang membutuhkan tanah luas. Masuki kesadaran dengan praktik sederhana itu, bertahap dan terus didampingi dengan komunikasi. Toh pendampingan –apalagi untuk satu dua orang– tidak harus bertemu langsung terus-menerus. Ada saluran komunikasi yang bisa kita maksimalkan untuk kerja pendampingan.

Ilmu pengetahuan orang kota; terutama para dosen, wartawan, aktivis, PNS atau bahkan karyawan perusahaan bisa melakukan tindakan-tindakan untuk transformasi sosial seperti itu. Tindakan kecil tetapi bermanfaat besar itu harus dilakukan karena para petani/orang desa belum optimal mendapatkan materi dari internet. Akses mereka dari internet masih terbatas. Kalaupun ada anak-anak muda desa yang gandrung internet, kesadarannya pun belum beranjak sekadar mencari informasi atau bermain media-sosial. Celakanya, gegap gempita menyambut informasi itu kebanyakan disertai dengan kebingungan untuk “sebaiknya membaca apa?.”

Maka di situlah peran orang terdidik harus mampu mendorong kesadaran untuk memilih dan memilah bacaan. Di situlah penting pula bahwa kita harus membaca sebelum memberikan bacaan itu kepada mereka para petani. Jangan sekali-kali kita memberikan bacaan sementara kita hanya baca judul. Baca literatur yang banyak, pahami satu persatu, lalu pilihkan saja beberapa materi yang menurut kita paling efektif. Efektif bacaan untuk warga desa/petani adalah yang singkat, jelas, dan lengkap isinya meliputi pengetahuan tentang tanaman, model budidaya, manfaat tanaman, pasca panen, pasar dan lain sebagainya. Metode ini untuk tujuan, supaya bacaan selalu bermanfaat dan berguna. Bermanfaat artinya memperkaya pemikiran, dan berguna artinya bisa diterapkan dalam tindakan.




Cobalah kita melakukan hal ini karena hal ini sangat praktis. Bahkan untuk sekup pemberdayaan satu dua orang bisa dilakukan. Lakukan saja pada keluarga Anda terlebih dahulu. Urusan tindakan yang lebih luas bisa dilakukan tahap selanjutnya. Tidak usah takut dunia tidak bisa berubah. Kemajuan hidup terus cepat berubah, dan tugas kita adalah mendinamiskan masyarakat petani dalam ruang perubahan agar tidak tertinggal.-Faiz Manshur.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: