Cara Menilai Keterbelakangan Petani

Oleh Faiz Manshur. Ketua Yayasan Odesa-Indonesia.

Sekadar urusan makan petani di Indonesia bisa mengatasi. Tapi mereka bukan monyet atau musang yang hidup cukup untuk urusan perut dari hasil alam sehingga dibiarkan begitu saja. Negara harus mulai sadar tentang nilai-nilai peradaban bagi warganya.




Sejak Maret 2016 saban hari saya menyerap kehidupan petani di kawasan Utara Kabupaten Bandung. Saya perhatikan satu persatu rumah tangga kehidupan mereka di kampung-kampung pelosok terbelakang. Saya ingin tahu sejatinya apa saja penyebabnya, dan tentu dalam bersamaan pula saya bergerak semampunya bersama teman-teman lain untuk menawarkan gagasan dan praktis perbaikan.

Masalah pertama harus saya kemukakan, bahwa urusan keterbelakangan dan kemiskinan ini tidak usah ditarik ke masalah kelaparan. Kemikisnan seringkali dipahami secara kasar terhubung dengan kelaparan sebagaimana seringkali terjadi di Afrika. Tidak sampai sejauh itu. Hanya saja membiarkan keterbelakangan dalam jangka panjang, apalagi di zaman serba maju seperti sekarang ini, dan ironisnya itu terjadi hanya berjarak antara 6-14 Km dari Pusat Metropolitan Kota Bandung.

Keluarga petani miskin di Kampung Cadas Gantung, Desa Mekarmanik, Cimenyan, Kab.Bandung
Keluarga petani miskin di Kampung Cadas Gantung, Desa Mekarmanik, Cimenyan, Kab.Bandung

Meninjau petani yang utama adalah mendudukkan hubungan manusia dengan peradaban. Hidup manusia harus beradab dan karena itulah kualitas kehidupan rumah tangga mesti sejahtera. Bangsa ini berhadapan ketertingalan dalam urusan peradaban. Sejauh nilai-nilai peradaban tidak ditemukan dalam ruang lingkup kemasyarakatan, maka kehidupan manusia ibarat monyet bercelana yang kebutuhannya selesai manakala bisa memburu/mengumpulkan makanan, adu kelamin, dan “hiburan” sebagai aktualisasi naluri rendahan.

Itulah mengapa orang-orang yang sadar akan peradaban mesti turun bergiat aktif terjun ke lapangan pertanian di desa-desa penghasil produk pertanian. Para petani itu adalah pilar ekonomi negara-bangsa. Dan menjadi bangsa yang memiliki peradaban tidak bisa lepas dari empat pilar kekuatan, yaitu 1) budidaya-pangan 2) ternak, 3) literasi, 4) teknologi. Jika petani desa lemah produksi ekonominya misalnya, orang-orang kota juga akan kesulitan urusan mendapatkan hasil panen. Itulah yang menimpa bangsa ini. Jutaan petani berproduksi, tapi masyarakat mengonsumsi hasil petani luar negeri. Petani tidak pernah didorong maju sehingga kita semua menjadi bulan-bulanan pasar bebas. Ini karena satu faktor mendasar kelemahan produksi.

Keterbelakangan merupakan lawan kemajuan (progress). Karena itu lupakan kata lapar karena kita tidak mengurusi kelaparan, melainkan mengurus proses kemajuan dan dari situ kita sebaiknya fokus pada satu istilah dinamika. Dinamika membutuhkan dinamisasi (subjek) dan kita bergerak atas dasar fakta tentang elemen-elemen yang melemahkan kehidupan petani desa. Apa saja?

Kaidah menilai

Saat ke desa-desa kita memerlukan cara pandang untuk menilai sebuah kehidupan. Selain saya mempelajari langsung dari lapangan, juga menyertakan prinsip-prinsip cara pandang ekonomi hasil penjelajahan dari internet. Sebagian besar situs FAO, Bank Dunia dan beberapa situs swasta lain sudah memberikan cara pandang secara baik, lengkap dan maju. Namun sebagian besar cara pandangnya kelewat makro. Tidak masalah karena prinsip universalnya bisa kita pakai sebagai cara pandang, sedangkan untuk deduktifnya kita bisa mengembangkan sendiri.




Penyebab petani tertinggal dan miskin bisa dinilai dari beberapa elemen dasar ini.
-Pasar – Infrastruktur Jalan -Teknologi -Informasi -Kredit -Ilmu -Kawin Dini -Kepemimpinan

PASAR. Petani berurusan dengan produksi. Maka di situ kita harus melihat elemen-elemen barang produksi yang ada dari petani terhubung dengan pasar. Apa saja barang yang dimiliki/diproduksi petani? Bagaimana mereka menjual ke pasar? Berapa mata-rantainya? Kalau kita menemukan desa-desa dengan rumah kecil-kecil dan reyot, jalanan rusak, tidak ada lapangan olahraga, tempat ibadah yang buruk, sarana Mandi Cuci dan Kakus (MCK) yang jorok, biasanya kampung seperti itu tertinggal dalam akses pasar. Biaya transportasi yang mahal karena sulitnya medan. Harga barang mereka rendah dan saat mengonsumsi dari produk perkotaan harganya mahal.

Sarana air bersih untuk keluarga desa di Mekarmanik Bandung masih banyak yang jauh dari kelayakan
Sarana air bersih untuk keluarga desa di Mekarmanik Bandung masih banyak yang jauh dari kelayakan

INFRASTRUKTUR. keterbelakangan infrastruktur ekonomi dan sosial di daerah pedesaan sangat menentukan maju-mundurnya kehidupan petani. Transportasi menuju ke kampung lain dan ke kota yang jauh disertai infrastruktur jalan yang buruk selain memboroskan keuangan juga menyiksa hidup mereka. Layanan kesehatan yang jauh misalnya, membuat mereka teraniaya, tidak banyak pilihan rumah sakit, sulit mencari kendaraan. Ada fasilitas ambulan di kecamatan misalnya, belum tentu bisa dimanfaatkan secara mudah karena jarak dan pelayanan negara yang masih amatiran. Adanya Kartu kesehatan gratis misalnya, sering tidak berguna karena persoalan adalah biaya transportasii, ketidakpahaman mengurus masalah di rumah sakit atau ketidakmampuan biaya mengurus harian keluarganya selama perawatan inap berhari-hari. Kalau bicara soal kesehatan manusia saja situasinya masih parah seperti itu, maka biasanya urusan kesehatan ternak dipastikan buruk, tidak produktif bahkan berpotensi menimbulkan persoalan penyakit di lingkungan bahkan endemik yang bisa meluas.

Jalan Desa Mekarmanik Kecamatan Cimenyan yang buruk.
Jalan Desa Mekarmanik Kecamatan Cimenyan yang buruk.

TEKNOLOGI. Lebih tepatnya teknologi tepat-guna. Jika petani tidak memiliki teknologi yang baik pengelolaan pertanian dan pasca panen, dipastikan mereka hanya sedikit mendapatkan nilai ekonomi dari produksinya. Kita bisa menilai kesimpulan keterbelakangan dari kepemilikan/ketersediaan teknologi ini. Misalnya ada petani kopi yang mendapatkan hak kelola tanah seluas 1 hektar tetapi tidak memiliki mesin pemotong rumput, dipastikan waktunya sangat tidak efisien untuk mengurus lahan. Pemborosan waktu bisa mengakibatkan tenaga terkonsentrasi urusan rumput, dan kurang bisa mengembangkan budidaya tanaman sampingan lain seperti tanaman obat. Ketiadaan mesin-mesin pengolah kopi dan sarana semacam green house di rumah para penampung kopi pasti akan memperlihatkan buruknya kualitas kopi. Teknologi-teknologi level kecil itu sebenarnya piranti paling dasar kemajuan para petani.

Sejauh teknologi pendukung tidak dimiliki petani, maka kita bisa melihat keterbelakangan mereka yang hidup seolah-olah tidak memiliki negara. Dinas-dinas dan kementrian tidak pernah menjawab problem mendasar ini. Dan yang sering membuat kita miris adalah soal kemubaziran manakala di beberapa titik kampung petani terdapat teknologi yang tidak tepat dan tidak berguna. Biasanya bantuan para politisi itu mangkrak karena sekedar membantu dengan tanpa melihat sisi lain dari aspek penggunaan. Teknologi yang tepat dan bisa digunakan aktivitas harian merupakan elemen mendasar kita menilai. Jika tidak ada maka dipastikan ekonomi keluarga petani sekalipun memiliki tanah luas setengah hektar akan kesulitan ekonomi.

Petani kita masih bercocok tanam pola lama tanpa teknologi yang untuk mendukung budidaya.
Petani kita masih bercocok tanam pola lama tanpa teknologi yang untuk mendukung budidaya.

INFORMASI: Akses informasi bisa memperlihatkan apakah petani desa itu hidup sejahtera atau pra sejahtera. Sinyal yang buruk, kepemilikan ponsel jadul membuat mereka hanya bisa bermain sms-telponan itupun jika mendapatkan sinyal. Jika ini merupakan fakta yang kita temui di lapangan di tahun 2016 ini, maka jelas mereka tidak menikmati murah dan mudahnya informasi sehingga mereka tidak bisa mengetahui perkembangan harga-pasar, tidak mengenal pasar lain kecuali di bandar-bandar terdekat, tidak bisa mengenal jenis-jenis tanaman lain, tidak berkembang pemahamannya tentang tanaman obat, dan seterusnya. Ada ungkapan pembaca di Indonesia adalah 1: 1000. Tetapi saya melihat misalnya, di kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung misalnya, dari ribuan penduduk tidak ada satupun yang membaca koran. Karena itu skala 1:1000 hanyalah hitungan angka beku. Informasi dari mulut ke mulut dengan sumber yang terbatas dan sering reduktif membuat petani sering mudah tidak percaya. Hanya untuk meyakini sesuatu informasi yang tak begitu penting saja mereka harus berjalan kaki jauh menemui sumber informasinya.

KREDIT. Keuangan merupakan salahsatu unsur yang menentukan keterbelakangan atau kemajuan petani perdesaan. Setiap musim tanam petani selalu membutuhkan modal. Demikian juga ada kebutuhan sehari-hari dan beberapa bulan penting yang akan menguras sumber ekonomi keluarga. Bank konvensional bukan jawaban bagi petani. Hanya orang bodoh yang bertanya kepada petani mengapa mereka tidak menghutang bank, apalagi memberikan penjelasan bahwa bank konvensional itu sudah memberikan tawaran bunga murah. Dengan kualitas pengetahuan sedapatnya, petani lebih “ngerti” soal tidak realistisnya mereka berhubungan dengan bank. Mereka lantas hanya bisa menghutang kepada bandar/penampung hasil pertanian, atau sebagian menghutang kepada rentenir. Ketiadaan koperasi simpan pinjam membuat petani tidak berdaya dan lemah dalam urusan ini. Mendirikan koperasi tentu butuh kemampuan sumberdaya manusia dalam hal manajemen, kepemimpinan dan juga keseriusan distribusi finansial. Sangat jauh dari kemampuan petani desa.

ILMU PENGETAHUAN. Ilmu-pengetahuan yang tepat dalam hal manajemen atau skill juga menentukan kehidupan petani. Kita bisa melihat sejauh ada SDM yang mumpuni di sebuah kampung misalnya, biasanya ada sedikit kemajuan sekalipun hanya pada beberapa bidang. Tetapi manakala secara kolektif petani miskin pengetahuan akibat tidak terlibat interaksi aktif dengan dunia luar dan tidak pernah ada pelatihan-pelatihan dan bacaan, biasanya petani tidak akan berkembang. Jika kita temukan fakta misalnya, banyak lahan menganggur sementara ada ibu rumah tangga atau anak-anak muda menganggur, itu lebih disebabkan ketiadaan pengetahuan tentang pemanfaatan lahan-lahan terbatas. Tanah yang subur di pekarangan sering hanya jadi kolam jorok dan bahkan banyak sampah menumpuk. Banyak tanaman tumbuh liar padahal itu sebenarnya sebagian adalah tanaman obat yang diburu komoditi internasional. Di sini peranan literasi (yang selalu terkait dengan aksi pendidikan informal) menjadi sangat penting diberikan perhatian. Mungkin orang sulit menghubungkan antara sastra, jurnalistik dan kemahiran menulis dengan kehidupan petani. Tapi literasi bukanlah terbatas pada ilmu eksklusif seperti di perkotaan itu. Lain kota lain desa. Lain kapasitas manusia, lain cara menerapkannya. Yang jelas hanya dengan literasi itulah bangunan peradaban manusia akan berkembang. Literasi akan berurusan dengan kemampuan membaca, menghitung, menulis, memahami realita dengan beberapa sudut pandang, memprediksi situasi, dan menyebarkan informasi. Terlebih-lebih sekarang era internet begitu menggurika menyediakan kesempatan memainkan “pasar” jenis baru. Sebagi alat dasar, internet bisa menjadi terobosan kemajuan desa dan akan menentukan tingkat penyerapan ilmu pengetahuan dari praktik-praktik kehidupan sehari-hari. Misalnya ada banyak petani yang mahir dalam urusan ternak harus mampu menuliskan dalam bentuk catatan-catatan khusus agar bisa menjadi bahan pengetahuan. Masyarakat petani terbelakang akan bisa mudah dideteksi dari kemampuan literasi mereka. Kursus-kursus ilmu pertanian harus diwujudkan laras dengan kemampuan literasi. Ini yang belum dimainkan oleh instrumen negara dalam rangka mengawal suksesnya pendidikan produksi pertanian di kalangan petani.

KAWIN DINI. Keterbelakangan petani juga bisa ditandai dengan banyaknya anak-anak perempuan usia 15-19 tahun menikah. Itu kebanyakan disebabkan bukan keinginan mereka harus segera menikah, melainkan lebih karena faktor mendasar yang kompleks. Untuk apalagi menunda menikah? Bukankah setelah sekolah juga (lulus SD, Lulus SMP atau jebol SMA) tidak ada pekerjaan? Di rumah mau apa? Anak-anak perempuan itu muncul kesadaran telah menjadi beban orangtuanya, demikian juga orangtuanya merasa terbebani. Dua elemen ini menyatu dan saling mendukung untuk pernikahan sekalipun usia sebenarnya masih 16 tahun lalu dibuat KTP abal-abal menjadi usia 18 tahun. Lalu mereka yang mudah menerima tawaran menikah dari pacarnya yang usia biasanya rentang 19-23 tahun. Dengan cepat menikah (sekalipun harus menjual tanah atau sapi), mereka berharap bisa lepas dari problem orangtuanya yang kelas ekonomi dan kelas pendidikannya setara. Di sini sumberdaya manusia keluarga bisa dilihat sebagai penentu maju-mundurnya ekonomi keluarga.

Perempuan-perempuan desa Pondok Buahbatu bekerja menjadi buruh tani kopi setelah lulus SD
Perempuan-perempuan desa Pondok Buahbatu bekerja menjadi buruh tani kopi setelah lulus SD

KEPEMIMPINAN. Kebanyakan dari desa yang kondisinya buruk (jauh dari keadaban) dari semua fakta di atas disebabkan oleh minimnya kepemimpinan sosial dan kepemimpinan ekonomi. Sekalipun di kampung-kampung itu ada beberapa jenis organisasi seperti karang taruna, jamaah pengajian, kelompok tani dan juga kepemimpinan struktural seperti RT/RW dan kades, semuanya menjadi bukti minimnya karakter kepemimpinan ini. Kalaupun ada kepemimpinan dalam sekup kecil biasanya peranannya tidak menyasar dalam urusan ekonomi dan tidak mampu menjawab problem terberat yakni pembangunan infrastruktur desa.

Adanya kiai/ajengan mungkin bisa menahkodai hubungan kultural-sosial-spritual, tetapi tidak bisa mengeksekusi tahapan-tahapan pembangunan karena itu merupakan wilayah garapan kepala desa beserta perangkatnya. Maka dipastikan desa-desa tertinggal itu yang utama disebabkan oleh lemah atau rusaknya kepemimpinan kepala desa,dan terhubung dengan itu, bisa jadi karena minimnya peran camat, bupati dan gubernur. Salahsatu penyakit dari kepemimpinan yang buruk adalah ketiadaan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Kepemimpinan untuk sebuah keadilan dan kemanusiaan masih jauh dimiliki para pemimpin dan mereka hanya mengerti bahwa apa yang disebut rakyatnya adalah keluarganya, saudaranya, teman-teman dekatnya yang loyal. Politik kroniisme ini merupakan sebuah penyakit politik/musuh demokrasi bernama yang kita kenali dengan istilah oligarkhi. Tumbuh subur di seantero penjuru nusantara.
***
Beberapa catatan di atas bisa menjadi acuan kita untuk bergerak mengisi kekosongan-kekosongan tersebut. Kemajuan dicapai tidak bisa secara instan. Karena itu diperlukan sebuah kesungguhan, kesabaran dan kepemimpinan pergerakan untuk setiap waktu mendampingi kaum tani di masing-masing desa. Kita harus masuk secara mendalam, menemukan persoalan di “bumi” tempat petani berpijak dengan problematika yang mereka alami.

Prinsip yang harus diamalkan dalam mengawal roda pergerakan adalah memegang komitmen untuk dinamika, proses yang progress setahap demi setahap. Kita bebas memilih jalan masuk melalui pintu manapun. Tetapi pada akhirnya urusan ekonomi menjadi skala prioritas untuk dijawab. Artinya kalau kita bergerak melalui pendampingan, maka ekonomi harus diprioritaskan. Kalau kita bergerak melalui kegiatan literasi maka persoalan ekonomi harus menjadi tema utama yang diharapkan literasi menjadi agen perubahan, bukan semata mengajari hobi membaca apalagi sekadar belajar narsisus dengan penyusunan kalimat yang lebih teratur.




Kalau kita memainkan kegiatan keagamaan, maka semestinya agama itu harus konkret menjawab masalah pertanian dan lingkungan pertanian. Misalnya dalam dakwah Islam, kita harus bisa menawarkan pengertian kafir bukan untuk menyerang paham yang berbeda atau pilihan politik yang berbeda, melainkan untuk menunjukkan “ketertutupan akal budi” sebagaimana sesuai dengan pengertian historis linguistiknya.

Tak terkecuali kalau para pecinta lingkungan itu bermaksud membereskan lingkungan hidup sekitar pertanian maka juga harus masuk ke wilayah kehidupan ekonomi petani. Jangan gerakan penghijauan itu hanya aksi-aksi karikatif untuk sarana aktualisasi murahan dengan narsisus berlebihan sementara petani tidak diajak terlibat menjadi subjek. Petanilah yang akan mengurus lingkungan, yang setiap hari berurusan dengan tanah, air, pohon dan udara. Mereka adalah pemilik lingkungan karena itu sebaiknya yang empunya rumah itulah yang harus bisa mengurus, bukan diuruskan terus-menerus melalui tindakan eksistensial orang kota.

Dan yang paling pokok, kita harus masuk dan mengambil insiatif-inisiatif untuk perubahan dengan prinsip transformasi sosial agar kaum tani segera menjadi aktor/subjek perubahan untuk kehidupan mereka, untuk masa depan anak-anaknya di hari esok yang lebih baik[]

BACA Mengubah Keadaan Petani

BACA Petani: Yang Pintar Yang Terpuruk

BACA Bibit Kopi dan Kemerdekaan Petani

3 tanggapan untuk “Cara Menilai Keterbelakangan Petani

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: