Bibit Kopi dan Kemerdekaan Petani

3.000 bibit kopi dari Kampung Pondok Buahbatu, Pinggir Hutan Arcamanik itu dinaikkan ke dalam mobil, Selasa (16/11/2016). Ini adalah gerakan yang ke sekian kali setelah Odesa-Indonesia memasok bibit-bibit tanaman kopi di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.




Dari pekarangan pembibitan milik Nanang Muhamad Yusuf itu, kami bersama warga, terutama ibu-ibu menaikkan bibit ke dalam mobil untuk diantar ke Kampung Sentak Dulang, berjarak sekitar 4 km. Petani Sentak Dulang selama ini belum banyak bertanam kopi. Kebanyakan petani sayuran atau tanahnya yang menganggur akan digarap.

Setelah mengikuti diskusi dengan menonton film minggu sebelumnya, dan tentu disertai diskusi informal seperlunya, Odesa-Indonesia bergerak aktif membangun kebersamaan demi kelancaran usaha budidaya kopi. Sebelumnya, tetangga sebelah Sentak Dulang, Kampung Cisanggarung sudah mulai. Ada sekitar 8.000 bibit yang sudah ditanam dan minat menambah sekitar 8.000 bibit lagi. Sementara di Sentak Dulang kemungkinan kebutuhan akan mencapai 20.000 bibit kopi.

Bibit Kopi sampai di Sentak Dulang. Rumah Ibu Nung.
Bibit Kopi sampai di Sentak Dulang.

Setahap demi setahap kami jalani proses “Membumian dalam Kebersamaan” ini. Tidak ada yang menjadi juragan karena semua dilakukan dengan cara kerjasama. Tidak ada yang menggurui karena dalam proses pendidikan pertanian kami lakukan dengan pola saling belajar bersama. Dengan begitu semua aliran yang tersumbat bisa lancar mengalir.

Oleh Odesa-Indonesia bibit diberikan secara gratis. Termasuk ongkos angkutan dan bahkan pupuk. Tetapi gratis ini bukan berarti berlaku bagi semua. Kita akan mempertimbangkan kadar kemampuan dan kelemahan. Mungkin bibitnya saja yang gratis, tetapi pupuk dan kebutuhan lain harus usaha bersama. Pengalaman di Cisanggarung begitu indah. Petani kita berikan bibit kopi secara gratis. Tetapi mereka kekurangan pupuk. Saat musyawarah semua urusan selesai karena ada peternak yang memiliki pasokan pupuk siap pakai. Kekurangan sedikit bisa kita jalinkan kerjasama dengan peternak daerah lain. Harga murah karena hanya membutuhkan biaya 25% dari harga standar. Itulah gotong-royong.



Pada prinsipnya, Odesa-Indonesia bergerak untuk sebuah kelancaran, dan bukan memanjakan petani, apalagi kalau bantuan itu diberikan seperti lazimnya para politisi sebatas untuk transaksi suara. Odesa-Indonesia juga tidak akan bermaksud mengapling hasil panen kopi petani.

Membantu atau mendorong kegiatan bahkan memberikan insentif modal bukan berarti kepentingannya adalah mengapling hasil panen. Itu perilaku yang tidak memerdekakan kaum tani. Odesa-Indonesia punya cara pandang, bahwa yang terpenting petani adalah mampu secara inovatif berproduksi, baik berbudidaya, pengolahan pasca panen, hingga urusan marketing dilakukan secara merdeka dan penuh pilihan.

Ini penting diingatkan karena selama ini banyak petani “tidak merdeka” akibat matarantai usahanya sering “dijajah” oleh bandar atau bahkan rentenir. Petani hanya menghutang ratusan ribu, tetapi hasil panennya harus disetor ke bandar dengan harga yang ditentukan, semurah mungkin. Dan lebih bahaya lagi, petani masih memanen dengan cara yang tidak bagus, yakni sistem merontokkan kopi. Antara hijau, kuning dan merah dicampur sehingga menghasilkan kualitas kopi yang buruk. Akibatnya pabrikan kopi menolak kopi seperti itu. Kalaupun dibeli, tentu dengan harga yang sangat rendah.

Di Sentak Dulang, bibit kopi sudah dibagikan langsung kepada para petani. Sabtu pekan ini 3.000 bibit akan menyusul dan menyusul lagi sampai kebutuhan para petani tercukupi.

Pak Nanang, petani dan pedagang kopi di Pondok Buah Batu termasuk golongan orang produktif. Saat banyak orang tidak berpikir menyediakan bibit kopi, ia konsisten dan mandiri melakukan pembibitan dengan kualitas yang baik. Dan kini dengan bibit kopi itu ia bisa banyak berbuat baik, di antaranya berbuat untuk kegiatan pembangunan dan mengurus masjidnya, bisa memudahkan petani desa lain dalam urusan bibit.-Khoiril Anwar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: